- 4 jam yang lalu
- 5 menit membaca
TANPA pelindung kepala dan pengawalan ketat para pengawalnya, Sultan Mehmed II (diperankan Cem Yiğit Üzümoğlu) turun dari atas kuda putihnya. Matanya begitu awas bergerak ke segala arah.
Sebaliknya, sang musuh Vlad Dracula (Daniel Nuță) bersama para pengawalnya masih belum terlihat meski diketahui Mehmed II. Mereka bersembunyi di hutan-hutan di atas bukit.
“Sekarang kau bersembunyi di hutan, seperti kau berlindung di bawah rok raja Hungaria bertahun-tahun! Kau tak lagi melawan perempuan dan anak-anak tak berdaya! Keluarlah dan akhiri apa yang telah kau mulai! Kau bahkan lebih pengecut dari ayahmu yang lemah. Dengarkan aku, Vlad Dracula! Fatih Sultan Mehmed akan datang untukmu!” seru Mehmed yang kesal pasukan terdepannya dikalahkan dengan taktik gerilya Vlad Dracula.
Begitulah yang digambarkan sineas Emre Şahin dalam season 2 serial dokudrama Rise of Empires: Ottoman, Mehmed vs. Vlad (2022). Momen yang digambarkan adalah ketika Sultan Mehmed menemui perlawanan alot pasca-menyeberangi Sungai Danube ketika hendak menghukum Vlad Dracula.
Di masa kecilnya, Vlad Dracula dibesarkan di lingkungan Kesultanan Turki Utsmani meski sebagai sandera politik. Bersama adiknya, Radu, Vlad adalah putera Raja Wallachia dari Wangsa Drăculeşti, Vlad II. Setelah ditaklukkan Sultan Murad II, pada 1442 Vlad dan Radu dijadikan sandera untuk menjaga kesetiaan ayahnya kepada Turki Utsmani. Namun kemudian Sultan Murad II mengizinkan Vlad Dracula jadi pengganti ayahnya dengan gelar Vlad III, sementara Radu sang adik tetap di lingkungan kesultanan.
“Murad sudah memprediksi pengkhianatan Vlad namun ia tetap percaya pada kesetiaan Radu, ia sudah terbiasa hidup dengan kekayaan dan kenyamanan di kesultanan,” tulis Angela Campanella dalam Vlad III Valacchia: Il Principe el l’Ordine del Drago.
Apa yang diprediksi Murad II terjadi juga. Seiring takhta kesultanan dilanjutkan oleh Mehmed II, yang lantas merebut Konstantinopel (kini Istanbul) pada 1453, para raja Eropa mulai cemas. Kawasan Balkan dan Transylvania begitu mudah dikuasai Mehmed II.
Dengan perbatasan alami berupa Sungai Danube, Wallachia mestinya jadi buffer-state antara wilayah Utsmaniyah di Balkan dan Kerajaan Hungaria di bawah raja Matthias Corvinus. Namun Dracula yang bertakhta di Wallachia berkali-kali menolak mengirimkan jizya (pajak per kapita non-muslim) kepada Mehmed.
Saat Sanjak (setara gubernur) Nicopolis Hamza Bey datang bersama pasukannya sebagai utusan Mehmed pada awal 1462, mereka justru dijebaknya. Pasukan Turki Utsmani dibantai dan disula dengan batang kayu. Oleh karenanya, Dracula kadang dijuluki Vlad Ţepeş atau Vlad Si Penyula karena kebengisannya menyula ribuan musuh, termasuk para boyar –adalah bangsawan Wallachia yang menentangnya– dengan menusukkan batang kayu dari bokong hingga menembus ke mulut mereka.
Pasukan Dracula lantas menyamar dengan seragam pasukan Turki Utsmani untuk menyerang Benteng Giurgiu dan membantai desa-desa sekitarnya. Kepala Hamza Bey yang dipenggal lalu dikirim Darcula ke Raja Matthias Corvinus. Harapannya, Hungaria mau membantu Wallachia melawan Turki Utsmani.
“Aku telah membunuh para petani, perempuan, tua dan muda, yang tinggal di Oblucitza dan Novoselo, di mana (sungai) Danube mengalir ke laut, sampai ke Rahoca, dekat Chilia, dari hilir Danube sampai ke Saovit dan Ghighen. Kami telah membantai 23.884 orang Turki (prajurit Utsmaniyah) tanpa menghitung karena mereka kami bakar di rumah-rumah atau karena kepala mereka terpenggal oleh prajurit kami. Oleh karenanya, Yang Mulia, Anda mesti mengetahui bahwa saya telah melanggar perdamaian dengannya (Sultan Mehmed II),” tulis Dracula dalam suratnya kepada Raja Matthias Corvinus tanggal 11 Februari 1462, dikutip Raymond T. McNally dan Radu Florescu dalam Dracula: A biography of Vlad the Impaler.
Sultan Mehmed II yang mendapat julukan “Al-Fatih” (artinya penakluk) setelah merebut Konstantinopel pun murka. Dia kumpulkan pasukannya. Mereka berangkat pada akhir April 1462 dan menyeberangi Sungai Danube awal Juni 1642, bertepatan di bulan puasa 866 Hijriah (31 Mei-29 Juni 1462 Masehi).
“Mehmed menyeberangi (sungai) Danube pada suatu pagi di tahun 1462, di tengah-tengah (bulan) Ramadan. Vlad langsung memberikan perlawanan terhadap pasukan terdepan muslim ketika pasukan utama Turki tak bisa bergerak cepat karena artileri berat dan perbekalan yang mereka bawa,” sambung Campanella.

Penyergapan Târgovişte hingga Kepala Dracula di Konstantinopel
Sultan Mehmed datang dengan pasukan berkisar 15 tumen (sekira 150 ribu prajurit) –beberapa sumber lain menyebut Mehmed II memberangkatkan sekitar 250-300 ribu prajurit. Satu tumen setara satu divisi dan setiap divisi berisi 10 ribu prajurit. Termasuk 4.000 prajurit kavaleri pimpinan Radu dan 120 meriam. Meski.
Sementara, pasukan Dracula hanya berkisar 30 ribu prajurit. Besar harapannya pasukan Hungaria datang membantunya seiring ia menahan laju ofensif Mehmed. Namun harapan itu kosong karena pasukan bantuan Hungaria tak pernah tiba.
Apa yang digambarkan dalam adegan di serial dokudrama tersebut merupakan perlawanan alot pasukan Dracula pasca-Pertempuran Turnu (4 Juni 1462). Pasukan Dracula menerapkan taktik gerilya dan bumi hangus untuk terus memperlambat laju pasukan Mehmed.
Setelah menyeberangi Sungai Danube, tujuan utama pasukan Mehmed adalah memburu Dracula hingga ke Târgovişte, ibukota Wallachia. Mereka tetap tak terbendung. Pada 16 Juni 1462, pasukan Turki Utsmani tiba di selatan Târgovişte dan rehat dengan mendirikan kamp-kamp.
Malam hingga dini hari (16-17 Juni), Dracula bersama sekitar 10 ribu pasukannya yang menyamar dengan seragam pasukan Turki Utsmani, menyergap kamp-kamp itu. Penyergapan-malam Târgovişte pun dilancarkan dengan tujuan membunuh Mehmed di tendanya.
Sejarawan Yunani Laoniko Chalkokondyles dalam Demonstrationes historiarium menjabarkan, serangan malam itu membuat pasukan Turki Utsmani dalam kekacauan karena tak tahu siapa lawan dan siapa kawan. Dalam kekacauan itulah Dracula –yang masih mengenakan seragam Turki Utsmani– melenggang bebas mencari tenda tempat Mehmed berada. Nahas, yang ditemukannya justru tenda dua tempat wazir agung, Ishak Pasha dan Mahmud Pasha, berada.

Pertempuran yang inklonkusif itu berlangsung sekitar empat jam hingga fajar menyingsing ketika pasukan Dracula mundur teratur. Dracula kehilangan lima ribu prajuritnya tewas, sementara 15 ribu pasukan Turki Utsmani lenyap.
Keesokannya, pasukan Mehmed maju sampai ke Târgovişte. Ternyata kota itu sudah ditinggalkan Dracula. Hanya mayat-mayat yang sudah jadi korban Dracula yang tersisa.
“Vlad terus melakukan perang psikologis, dengan meninggalkan para tawanan Turki yang disula. Sultan sampai tak kuasa melihat ‘hutan prajurit yang disula. Vlad mundur sampai ke Transylvania, demi mencari bantuan dari Matthias Corvinus. Namun bukannya mendapat pertolongan, kedatangan Ţepeş justru dicurigai. Taktik sultan dengan memalsukan surat Vlad yang dikatakan akan menyerahkan Wallachia kepada sultan, Raja Matthias menangkapnya dan dipenjarakan selama 12 tahun di Visegrád,” tulis Marius-Mircea Crişan dalam artikel “Castle Hunedoara and the Dracula Myth: Connection or Speculation” yang termaktub dalam buku Dracula: An International Perspective.
Meski gagal memburu Dracula saat itu juga, Mehmed menetapkan Radu sebagai raja Wallachia yang jadi vasal Turki Utsmani. Sedangkan Dracula, setelah 12 tahun ditahan, dibebaskan usai menjadi Katolik dan menjadi bawahan Matthias Corvinus.
Medio Januari 1477, pasukan Dracula dikalahkan adik sambungnya yang lain, Basarab Laiotă –yang didukung Turki Utsmani– dalam sebuah pertempuran dekat Snagov. Kepala Dracula dipenggal dan kemudian dikirim ke Sultan Mehmed di Konstantinopel.
“Sebagaimana tradisi Turki, kepala Vlad dikuliti dan kemudian diawetkan dengan madu dan kapas. Lalu dibawa ke hadapan Mehmed II yang lantas memeriksanya. Kemudian kepalanya dipajang di tembok istana kesultanan,” tandas Matei Cazacu dalam Dracula.*













Komentar