top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Sepuluh Fakta di Balik Pengepungan Konstantinopel

Turki Usmani butuh waktu dua bulan untuk menaklukan Konstantinopel. Peristiwa militer bersejarah ini mengakhiri periode abad pertengahan.

6 Apr 2015

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Pengepungan Konstantinopel oleh pasukan Turki Usmani pada 6 April-29 Mei 1453.

  • 7 Apr 2015
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 29 Mei 2025

PADA 6 April 1453, sekitar 80.000 prajurit merapatkan barisannya di bawah panji Turki Usmani pimpinan Sultan Mehmed II. Di balik tembok, Kaisar Byzantium, Constantine XI, tengah memberi perintah kepada 7.000 prajuritnya untuk mempertahankan tembok kota mati-matian. Salah satu konfrontasi militer paling bersejarah dimulai. Konstantinopel dikepung selama nyaris dua bulan, sebelum akhirnya takluk pada 29 Mei 1453.


Berikut ini sepuluh fakta tentang pengepungan dan jatuhnya Konstantinopel.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page