- 19 Apr 2025
- 5 menit membaca
Diperbarui: 4 hari yang lalu
NASIB Sultan Abdülhamid II seperti abu di atas tanggul. Ketika ia naik takhta, Kesultanan Ottoman berada di titik nadir dan kekuasaannya menyusut seiring demokratisasi. Maka, dengan beragam cara, Abdülhamid II berupaya menegakkan kembali kekuasaannya yang absolut.
Kesultanan Ottoman atau disebut juga Kesultanan Utsmaniyah adalah kekhalifahan Islam yang meraih puncak kejayaan pada abad ke-16 dan ke-17. Kekuasannya meliputi sebagian besar Balkan (Eropa bagian tenggara), Irak, Suriah, Israel, Mesir, sebagian Afrika Utara, dan Jazirah Arab. Namun krisis demi krisis mulai menggerogoti Ottoman. Situasi itulah yang dihadapi Abdulhamid II.
Abdulhamid II dilantik sebagai sultan pada 7 September 1876 di Masjid Eyup Sultan dengan penyerahan Pedang Osman. Beberapa bulan kemudian ia melantik Midhat Pasha, tokoh reformis yang mencita-citakan demokrasi di Ottoman, sebagai wazir agung.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















