- 3 jam yang lalu
- 6 menit membaca
SITI Rabyah Parvati baru berusia lima tahun ketika ikut mendampingi ayahnya, Sutan Sjahrir ke Zurich, Swiss, untuk menjalani perawatan. Sjahrir harus berobat ke negeri Eropa usai terkena serangan stroke. Penyakit itu mendera sebagai akibat tekanan darah tinggi yang dialaminya sewaktu mendekam dalam penjara. Atas seizin Presiden Sukarno, Sjahrir diperbolehkan berobat ke luar negeri. Titimangsa 1965, Sjahrir sekeluarga berangkat ke Zurich.
“Kami mendapat izin untuk Papa berobat, asalkan bukan di negeri Belanda. Jadi, kami akhirnya mendapat izin untuk ke Zurich dan mendapat pengobatan di sana. Itu adalah saat saya usia lima ahun,” kenang Siti Rabyah dalam diskusi “Sjahrir: Perjuangan Kita” di Perpustakaan Nasdem, pekan lalu.
Pada 1962, Sjahrir dikenai status tahanan politik oleh rezim Sukarno. Sjahrir bersama sejumlah tokoh oposisi yang disebut “Bali Connection” dituding berkomplot untuk mencelakai Presiden Sukarno. Tak lama setelah Sjahrir ditahan, partainya, Partai Sosialis Indonesia (PSI), dibubarkan oleh pemerintah. PSI dibubarkan bersama Masyumi lantaran kadernya terlibat dalam gerakan daerah PRRI-Permesta.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.









