- 27 Feb 2024
- 4 menit membaca
Diperbarui: 25 Feb
SETELAH lulus sekolah AMS (Algemeene Middelbare School) di Bandung pada 1929, Sutan Sjahrir melanjutkan pendidikan ke Belanda. Di Amsterdam, dia tinggal bersama kakaknya, Sjahrizad, istri dr. Djoehana Wiradikarta yang sedang kuliah pascasarjana kedokteran. Sjahrir masuk Fakultas Hukum di Universitas Amsterdam.
“Tapi, dia jarang mengikuti kuliah. Minat perhatiannya ada di tempat lain. Sjahrir dengan serius mempelajari sosialisme,” tulis Rosihan Anwar dalam Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya.
Sejarawan Rudolf Mrazek dalam Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia menyebut beberapa hari setibanya di Amsterdam, Sjahrir kemudian menulis surat kepada perhimpunan mahasiswa di kota itu, Sociaal Democratische Studenten Club (Klub Mahasiswa Sosial Demokrat), menanyakan keterangan tentang gerakan pemuda tersebut. Ketika menerima surat Sjahrir, ketua klub itu, Salomon Tas, segera menaiki sepedanya dan pergi menemui Sjahrir.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












