top of page

Kritik Terhadap Kabinet Sutan Sjahrir

Kritik bermunculan tak lama setelah Kabinet Sutan Sjahrir diumumkan. Komposisi Kabinet Sjahrir dianggap tidak mencerminkan semua aliran politik, tidak mewakili pemuda, dan berkaitan dengan Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Perdana Menteri Sutan Sjahrir. (IPPHOS).

25 Jun 2025
4 menit membaca

Diperbarui: 14 Nov 2025

TIGA hari setelah Kabinet Sutan Sjahrir diumumkan pada 14 November 1945, terjadi pertemuan pertama Belanda-Indonesia di Jakarta di bawah pimpinan Panglima Tentara Sekutu Letnan Jenderal Philip Christison. Tokoh Belanda yang hadir daam pertemuan tersebut antara lain Letnan Gubernur Jenderal H.J. van Mook, Ch. O. van der Plas, P.J. Idenburg, dan Baron van Asbeck. Sementara wakil Indonesia adalah Perdana Menteri Sjahrir, Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin, Menteri Pekerjaan Umum Putuhena, dan Menteri Perhubungan Abdul Karim. Selain itu, Penasihat Politik Kementerian Luar Negeri Inggris, Mr. Dening, hadir sebagai wakil dari pihak Inggris.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page