top of page

Membiayai Republik dengan Perdagangan Gelap

Indonesia melakukan perdagangan gelap karena blokade ekonomi Belanda. Hasilnya untuk membiayai perjuangan Republik.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi perdagangan di pinggir sungai. (nationalarchief.nl).

10 Jul 2021
4 menit membaca

SLAMET Iman Santoso, dokter di Rumah Sakit Oemoem Negeri (RSON) Jakarta (sekarang RSCM), berjalan hati-hati. Dia menengok ke belakang berkali-kali kalau-kalau ada yang mengikuti. Langkahnya hampir sampai ke rumah seorang pedagang keturunan Tionghoa di Pasar Pagi, Kota Tua.


Slamet bertemu dengan pemilik rumah, lalu mendapat secarik kertas bertuliskan huruf kanji. Dari sana, dia melangkah menuju tempat seorang serdadu Gurkha. Arkian itu dia harus menemui nelayan, kemudian pedagang. Ada total enam orang dia temui hanya untuk memperoleh Oeang Republik Indonesia (ORI).


Tiap kali bertemu dengan orang-orang itu, Slamet mendapat kode dan petunjuk tertentu. Tujuannya untuk menghindari kecurigaan tentara NICA. Kala itu sekira 1946 atau 1947, Slamet mengemban tugas untuk membeli obat-obatan selundupan dengan uang selundupan pula. Pengalamannya tertuang dalam Warna-Warni Pengalaman Hidup.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
transparant.png
bottom of page