- 14 Mar 2020
- 5 menit membaca
Diperbarui: 16 Mei
H.B. Jassin, Paus Sastra Indonesia, telah meninggal dunia 20 tahun lamanya (11 Maret 2000). Tapi amalnya semasa hidup terus kekal hingga kini. Dia berjasa mengembangkan kehidupan, dokumentasi, dan penerjemahan sastra di Indonesia. Di bidang terakhir, amal Jassin paling kesohor ialah menerjemahkan novel Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker alias Multatuli serentang 1971–1972.
Sastrawan Eka Budianta berpendapat terjemahan Jassin sangat halus. Bahkan cenderung melankolik. “Dia mengarahkan Max Havelaar ke bacaan keluarga,” kata Eka kepada Historia, usai mengisi acara "H.B. Jassin Sang Penjaga Sastra" di Bentara Budaya Jakarta, 12 Maret 2020.
Eka mencontohkan bagian ini. Aku tidak tahu di mana aku akan mati. Kulihat lautan luas di pantai selatan. Ketika aku membuat garam di sana bersama ayahku.
“Saya terpesona pada nyanyian Melankolis Saidjah yang terasa mendalam di hati Havelaar. Saya tidak menyangka bahwa untuk membuat garam di masa kolonial diperlukan keberanian. Mengapa? Karena produksi garam dimonopoli oleh pemerintah,” catat Eka dalam “Harapan, Keberanian, Kemanusiaan Kita”, makalah pada Festival Multatuli di Rangkasbitung, 10 September 2019.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















