- Petrik Matanasi
- 11 Sep 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 13 jam yang lalu
La Domeng muda cukup beruntung dibanding anak-anak Indonesia kebanyakan. Setidaknya, dia bisa bersekolah, bahkan pernah sekolah Muhammadiyah di kota Solo. Selama bersekolah di Jawa itu, ada tokoh Muhammadiyah terkena bernama Kahar Muzakkir. Nama itulah yang kemudian digunakan La Domeng hingga akhir hayatnya.
Setelah bertahun-tahun belajar di Jawa, Kahar Muzakkar (1920-1965) pulang kampung ke Sulawesi Selatan. Dia membantu bisnis orangtuanya dan terlibat bisnis pengiriman kulit kayu bakko ke Jepang.
Namun, kerjasama dagang Jepang itu membawa konsekuensi politik bagi keluarga tersebut. Sebab, Jepang sudah diawasi pemerintah Hindia Belanda sejak sebelum 1940 meski barang-barang buatan Jepang sudah banyak masuk ke Jawa dan kota-kota lain di Hindia Belanda. Arsip Kabinet Perdana Menteri 1950-1959 nomor 939 menyebut nama Kahar kemudian masuk dalam daftar hitam pemerintah Hindia Belanda.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.











