top of page

Literasi Orang Betawi

Masyarakat Betawi telah memiliki tradisi literasi. Bahkan, mereka sudah mengenal penyewaan naskah.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Naskah Pecenongan. (Dispusip Provinsi DKI Jakarta).

13 Jun
4 menit membaca

Diperbarui: 15 Jun

BANYAK orang mengira masyarakat Nusantara, termasuk masyarakat Jakarta buta huruf sebelum kedatangan kolonial Belanda. Padahal, masyarakat Betawi telah memiliki tradisi literasi dalam penulisan dan pembacaan naskah aksara Arab-Jawi dengan bahasa Melayu. Ini menunjukkan masyarakat Betawi telah mengenal baca tulis dengan baik. Dengan demikian, mereka hanya buta huruf Latin yang diperkenalkan melalui pendidikan dan budaya kolonial. 


“Kebudayaan menulis dan membaca telah berkembang jauh sebelum kedatangan kolonial Belanda. Pada masa itu, masyarakat telah mengenal pendidikan agama Islam yang menjadi medium berkembangnya tradisi literasi. Melalui pendidikan tersebut, masyarakat terbiasa mencatat dan membaca menggunakan aksara Arab maupun Jawi. Sehingga mereka itu bukan buta huruf, tetapi buta huruf Latin,” kata Siswantari, sejarawan Universitas Indonesia, kepada Historia.ID


Bukti budaya literasi masyarakat Betawi dapat dilihat dari Pecenongan. Kawasan yang kini dikenal sebagai pusat kuliner, dahulu menjadi pusat kegiatan literasi masyarakat Betawi yang menyimpan banyak manuskrip penting. Pada abad ke-19, Pecenongan dikenal sebagai kawasan yang memiliki banyak skriptorium atau tempat penulisan dan penyalinan naskah. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page