- 19 Jun 2014
- 3 menit membaca
Diperbarui: 13 Jun
RAWANA mengadakan pesta. Ia memberi minuman kepada raksasa, berupa “brandi dan konyak syampanye, maka sekaliannya mabuk... Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam pun diisi oranglah daripada minuman arak dan brem dan anggur sampanye dan brandi konyak”.
Cuplikan adegan dalam Hikayat Sri Rama, yang disadur Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli, terasa janggal bila pembaca berbekal bingkai cerita Ramayana. Naskah yang selesai disalin pada 17 Desember 1896 ini memang memuat cerita yang bersumber pada Ramayana. Namun Bakir menyisipkan kejadian aktual. Bahkan, dalam cerita wayang dan petualangan, dia memasukan nama-nama tempat di Jawa; Batavia, Gunung Gede, Muara Ancol, Muara Baru, Pasar Baru, dan Bekasi.
Tujuannya, “memberikan aspek realis, modern, dan profan kepada cerita fiksi, kuno, dan sedikit banyak sakral,” tulis Henri Chambert-Loir dalam pengantar Katalog Naskah Pecenongan Koleksi Perpustakaan Nasional: Sastra Betawi Akhir Abad-19.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















