top of page

21 April 1619: Pejabat VOC yang Mendirikan Cape Town Lahir

Dianggap sebagai bapak pendiri Cape Town, Jan van Riebeeck membuka pemukiman kulit putih di Afrika Selatan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pendaratan van Riebeeck di Tanjung Harapan pada 1652. Dilukis sekitar 1850 oleh Charles Charles Davidson Bell. (Sumber: Wikimedia Commons)

21 Apr
3 menit membaca

21 APRIL 1619, Johan Anthoniszoon “Jan” van Riebeeck lahir di Culemborg, Belanda. Dia adalah pejabat Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) yang menjadi pendiri Cape Town, ibukota legislatif Afrika Selatan. Di bawah komandonya, kawasan ini terbuka lebar bagi para pemukim kulit putih, terutama dari Belanda.


Van Riebeeck bergabung dengan VOC pada 1639. Dia sempat bekerja sebagai asisten dokter bedah di Batavia (kini Jakarta) sebelum memimpin pos perdagangan VOC di Tonkin, Indochina (sekarang Vietnam). Namun, dia diberhentikan dari jabatannya karena ketahuan melakukan perdagangan untuk mengisi kantong pribadinya.


Dalam perjalanan pulang, van Riebeeck berhenti di Table Bay di Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di ujung barat daya Semenanjung Cape, Afrika Selatan. Dia melihat potensi daerah ini sebagai tempat singgah kapal-kapal VOC untuk mengisi perbekalan. Pendapatnya kemudian disetujui oleh para petinggi VOC.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page