- 2 jam yang lalu
- 3 menit membaca
21 APRIL 1619, Johan Anthoniszoon “Jan” van Riebeeck lahir di Culemborg, Belanda. Dia adalah pejabat Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) yang menjadi pendiri Cape Town, ibukota legislatif Afrika Selatan. Di bawah komandonya, kawasan ini terbuka lebar bagi para pemukim kulit putih, terutama dari Belanda.
Van Riebeeck bergabung dengan VOC pada 1639. Dia sempat bekerja sebagai asisten dokter bedah di Batavia (kini Jakarta) sebelum memimpin pos perdagangan VOC di Tonkin, Indochina (sekarang Vietnam). Namun, dia diberhentikan dari jabatannya karena ketahuan melakukan perdagangan untuk mengisi kantong pribadinya.
Dalam perjalanan pulang, van Riebeeck berhenti di Table Bay di Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di ujung barat daya Semenanjung Cape, Afrika Selatan. Dia melihat potensi daerah ini sebagai tempat singgah kapal-kapal VOC untuk mengisi perbekalan. Pendapatnya kemudian disetujui oleh para petinggi VOC.
Pada 1651, van Riebeeck memimpin ekspedisi untuk membuka pemukiman Belanda pertama di Tanjung Harapan. Setelah berhasil menambatkan tiga kapal di Table Bay, dia mulai membangun benteng dan pangkalan tempat singgah kapal-kapal yang berlayar dari dan menuju Hindia Belanda. Semua itu semata-mata untuk mempertahankan monopoli VOC atas perdagangan rempah-rempah.
Ketika van Riebeeck tiba, sebagian besar wilayah ini dihuni oleh suku Khoisan. Ini adalah nama kolektif untuk suku Khoikhoi, yang memelihara sapi dan domba, dan suku San, yang merupakan pemburu-pengumpul. Awalnya mereka memperlakukan penduduk setempat dengan hormat dan bahkan bergantung pada suku Khoikhoi untuk pasokan ternak. Selain itu, mereka mengolah lahan pertanian.
Namun kesulitan kemudian datang. Menurut Nigel Worden dalam Cape Town: The Making of a City, an Illustrated Social History, selain gagal panen, jumlah petani yang sangat sedikit menyebabkan persediaan makanan menipis dan memaksa para pemukim bergantung pada impor makanan dari Belanda dan Batavia. Untuk mengatasinya, van Riebeeck meminta tenaga kerja khusus untuk mengolah lahan pertanian.
Pada 1657, beberapa pegawai VOC dibebaskan dari kontrak. Mereka diberi kebebasan untuk memiliki dan mengolah lahan, dengan catatan harus menjual hasil bumi mereka kepada VOC. Tapi kebijakan ini justru menjadi awal konflik dengan suku Khoikhoi.
“Ini adalah awal dari proses kolonial perampasan tanah yang berlanjut selama lebih dari 250 tahun, dan memicu banyak konflik kekerasan,” catat Sampie Terreblanche dalam A History of Inequality in South Africa, 1652-2002.
Tanjung Harapan kemudian menjadi koloni VOC. Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja, VOC kemudian memutuskan untuk mengimpor budak, yang terus berlangsung hingga tahun 1808 ketika Inggris menangguhkan perdagangan budak.
Menurut Sampie Terreblanche, dari tahun 1652 hingga 1808, sekitar 63.000 budak diimpor ke Cape dari kepulauan Indonesia, anak benua India, Madagaskar, dan Mozambik, dengan masing-masing wilayah menyumbang sekitar seperempat dari total.
Selain membangun pemukiman, van Riebeeck mengembangkan berbagai macam tanaman yang menambah keragaman tumbuhan di Tanjung Harapan. Beberapa tanaman seperti anggur, kentang, apel, dan jeruk memberikan dampak besar bagi kehidupan dan perekonomian penduduk. Selama bertugas di Tanjung Harapan, van Riebeeck juga menulis jurnal yang nantinya menjadi acuan penting bagi eksplorasi sumber daya alam di kawasan tersebut.
Van Riebeeck memimpin koloni tersebut selama sepuluh tahun. Perannya dalam membangun koloni di Tanjung Harapan membuat van Riebeeck menjadi figur penting dalam sejarah Afrika Selatan. Selama era Apartheid, wajahnya muncul di uang kertas dan perangko. Dia dianggap sebagai founding father bagi sebagian besar Afrikaner, kelompok etnis kulit putih keturunan pemukim Belanda, Prancis, dan Jerman.
Setelah menyelesaikan tugasnya di Tanjung Harapan, van Riebeeck diangkat menjadi sekretaris jenderal Gubernur Hindia Belanda. Dia tutup usia di Batavia pada 18 Januari 1677 di usia 57 tahun. Anaknya, Abraham van Riebeeck yang lahir di Cape Town, menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda ke-18.*


















Komentar