- 9 jam yang lalu
- 2 menit membaca
DINI hari, 14 Februari 1946, kekuatan gabungan rakyat Manado menyerbu dan mengambil-alih tangsi militer Belanda yang berada di Teling, Manado. Mereka membebaskan pemimpin Republik dari tahanan, menawan perwira Belanda, dan mengibarkan bendera Merah-Putih. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Peristiwa Merah-Putih.
Peristiwa Merah-Putih tak bisa dilepaskan dari berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang baru sampai ke telinga rakyat Sulawesi Utara empat hari kemudian. Meski sedikit terlambat, rakyat Sulawesi Utara menyambut dengan sukacita. Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Pasukan Belanda atau Netherland Indies Civil Administration (NICA), dengan membonceng tentara Sekutu, tiba dan kembali menguasai Sulawesi Utara.
Para pemuda-pejuang, termasuk anggota Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) dari Minahasa, yang tergabung pada Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) bereaksi. Mereka menyusun rencana untuk menyerang dan mengambil-alih tangsi militer Belanda. Karena beberapa pemimpin pasukan ditangkap, termasuk Charles Choesj Taulu, rencana penyerangan dialihkan kepada Mambi Runtukahu.
Sesuai rencana, serangan dilancarkan pada 14 Februari 1946. Mereka membebaskan tokoh-tokoh pro-RI serta menahan komando Garnisun Manado dan semua pasukan Belanda di Teling dan penjara Manado. Menurut Ben Wowor dalam Sulawesi Utara Bergolak: Peristiwa Patriotik 14 Februari 1946 dalam Rangka Revolusi Bangsa Indonesia, para perwira Belanda kemudian diasingkan ke Ternate.
Selain itu, mereka merobek bendera Belanda menjadi Merah-Putih dan mengibarkannya di atas tangsi militer Belanda.
“Dengan diawali oleh peristiwa itu, para pemuda menguasai markas Belanda di Tomohon dan Tondano,” catat Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia jilid VI.
Kabar tersebut dikirimkan ke pemerintah pusat di Yogyakarta. Maklumat No.1, yang ditandatangani oleh Charles Choesj Taulu, pun dikeluarkan. Pemerintah sipil dibentuk dan satuan lokal tentara Indonesia disusun.
Berita perlawanan di Minahasa ini disebarkan dengan cepat oleh berbagai harian dan siaran radio lokal. Berita ini ditangkap kapal perang Australia SS Luna dan diteruskan ke pangkalannya di Brisbane. Selanjutnya Radio Australia menyiarkan sebagai berita utama dan selanjutnya disebarluaskan oleh BBC London dan Radio San Fransisco, AS.
“Dengan demikian peristiwa itu dapat didengar di seluruh dunia bahwa rakyat Indonesia bergerak melawan NICA guna mempertahankan kemerdekaan,” catat Suhartono W. Pranoto dalam Revolusi Agustus.
Kemenangan yang manis tersebut tak bertahan lama. Dicatat Jessy Wenas dalam Sejarah & Kebudayaan Minahasa, awal Maret 1946, datanglah satu batalion pasukan Belanda bernama Divisi 7 Desember yang menumpang kapal perang Piet Hein. Para tokoh gerakan Merah-Putih diundang berunding di kapal. Undangan ini rupanya jebakan. Mereka ditahan.
Basis perlawanan rakyat pun melemah dan Belanda kembali menguasai Sulawesi Utara.*









