top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

14 Februari 1946: Peristiwa Merah-Putih di Manado

Para pemuda melakukan perlawanan terhadap upaya Belanda menguasai kembali Sulawesi Utara.

13 Feb 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Tentara KNIL di Manado. (KITLV).

  • 14 Feb
  • 2 menit membaca

DINI hari, 14 Februari 1946, kekuatan gabungan rakyat Manado menyerbu dan mengambil-alih tangsi militer Belanda yang berada di Teling, Manado. Mereka membebaskan pemimpin Republik dari tahanan, menawan perwira Belanda, dan mengibarkan bendera Merah-Putih. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Peristiwa Merah-Putih.


Peristiwa Merah-Putih tak bisa dilepaskan dari berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang baru sampai ke telinga rakyat Sulawesi Utara empat hari kemudian. Meski sedikit terlambat, rakyat Sulawesi Utara menyambut dengan sukacita. Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Pasukan Belanda atau Netherland Indies Civil Administration (NICA), dengan membonceng tentara Sekutu, tiba dan kembali menguasai Sulawesi Utara.


Para pemuda-pejuang, termasuk anggota Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) dari Minahasa, yang tergabung pada Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) bereaksi. Mereka menyusun rencana untuk menyerang dan mengambil-alih tangsi militer Belanda. Karena beberapa pemimpin pasukan ditangkap, termasuk Charles Choesj Taulu, rencana penyerangan dialihkan kepada Mambi Runtukahu.



Sesuai rencana, serangan dilancarkan pada 14 Februari 1946. Mereka membebaskan tokoh-tokoh pro-RI serta menahan komando Garnisun Manado dan semua pasukan Belanda di Teling dan penjara Manado. Menurut Ben Wowor dalam Sulawesi Utara Bergolak: Peristiwa Patriotik 14 Februari 1946 dalam Rangka Revolusi Bangsa Indonesia, para perwira Belanda kemudian diasingkan ke Ternate.


Selain itu, mereka merobek bendera Belanda menjadi Merah-Putih dan mengibarkannya di atas tangsi militer Belanda.


“Dengan diawali oleh peristiwa itu, para pemuda menguasai markas Belanda di Tomohon dan Tondano,” catat Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia jilid VI.


Kabar tersebut dikirimkan ke pemerintah pusat di Yogyakarta. Maklumat No.1, yang ditandatangani oleh Charles Choesj Taulu, pun dikeluarkan. Pemerintah sipil dibentuk dan satuan lokal tentara Indonesia disusun.



Berita perlawanan di Minahasa ini disebarkan dengan cepat oleh berbagai harian dan siaran radio lokal. Berita ini ditangkap kapal perang Australia SS Luna dan diteruskan ke pangkalannya di Brisbane. Selanjutnya Radio Australia menyiarkan sebagai berita utama dan selanjutnya disebarluaskan oleh BBC London dan Radio San Fransisco, AS. 

“Dengan demikian peristiwa itu dapat didengar di seluruh dunia bahwa rakyat Indonesia bergerak melawan NICA guna mempertahankan kemerdekaan,” catat Suhartono W. Pranoto dalam Revolusi Agustus.


Kemenangan yang manis tersebut tak bertahan lama. Dicatat Jessy Wenas dalam Sejarah & Kebudayaan Minahasa, awal Maret 1946, datanglah satu batalion pasukan Belanda bernama Divisi 7 Desember yang menumpang kapal perang Piet Hein. Para tokoh gerakan Merah-Putih diundang berunding di kapal. Undangan ini rupanya jebakan. Mereka ditahan.


Basis perlawanan rakyat pun melemah dan Belanda kembali menguasai Sulawesi Utara.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Murka karena utusannya dibantai dengan bengis, Sultan Mehmed II membalas dengan kekuatan penuh. Walau berhasil kabur, nasib Vlad Dracula berakhir tragis.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Pahit Getir Hidup Sjahrir

Pahit Getir Hidup Sjahrir

Menjelang akhir hayatnya, Sutan Sjahrir hidup sebagai tahanan dalam perawatan. Namun, justru pada saat itulah putrinya merasakan kehidupan sebagai keluarga yang utuh.
Gowa Masuk Islam

Gowa Masuk Islam

Islamisasi di Gowa dan Makassar makan waktu panjang meskipun raja-raja di sana sangat terbuka.
bottom of page