top of page

Sersan Jawa dalam Peristiwa Merah Putih di Manado

Diskriminasi membuat serdadu KNIL berdarah Indonesia terlibat dalam pemberontakan yang dikenal sebagai Peristiwa Merah Putih di Manado.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tentara KNIL di Manado tahun antara 1923 dan 1925. (KITLV).

5 Sep 2022
3 menit membaca

Diperbarui: 14 Feb

NAMANYA Frans Bisman. Dia bukan asli Sulawesi Utara. Hanya saja pada awal tahun 1946 dia sedang berada di Manado. Dengan berseragam hijau militer sebagai bintara tentara kolonial yang sedang dibangun kembali, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL), Bisman adalah serdadu yang ikut Perang Dunia II.


“Bisman dalam Perang Dunia ke-2 mendapat latihan intelijen di Australia dan sering turut dalam kapal selam Sekutu untuk dilepaskan di perairan daerah musuh untuk mencari tahu kekuatan tentara Jepang,” tulis Ben Wowor dalam Sulawesi Utara Bergolak: Peristiwa Patriotik Merah-Putih, 14 Pebruari 1946 dalam Rangka Revolusi Bangsa Indonesia

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page