top of page

Sejarah Indonesia

M Jusuf Jalan Jalan Ke Manado

M Jusuf "Jalan-jalan" ke Manado

Sulut panas, Jusuf diutus KSAD ke Manado. Ketika Jusuf datang, Permesta sudah siap dengan bantuan Amerikanya.

11 April 2024

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

M. Jusuf, kanan, saat dilantik menjadi Panglima ABRI oleh Presiden Soeharto (Perpusnas RI)

Pada 1958, Kastaf Resimen Hasanuddin Letnan Kolonel (letkol) Andi Muhamad Jusuf mendapat perintah dari KSAD Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution untuk berkunjung ke Manado. Nasution ingin menenangkan para perwira menengah Angkatan Darat yang termasuk golongan anti-komunis namun memimpin tentara di Sulawesi Utara bergerak menentang pusat. Kepada mereka, Nasution menjanjikan akan membuat perubahan di Jakarta dengan membentuk kabinet baru di mana Nasution, Hatta, Sultan serta Wakil KSAD Gatot Subroto sebagai pemegang posisi Kunci.


“Kebinet ini tidak akan (ulangi tidak akan) mengikutsertakan tokoh-tokoh kiri,” kata Nasution, seperti dicatat Audrey Kahin dan George McTurnan Kahin dalam Subversi Sebagai Politik Luar Negeri.


Nasution berjanji kepada para perwira penting di Sulawesi Utara itu untuk menyelanyapkan komunisme juga. Mereka sama-sama resah dengan membesarnya PKI, terlebih setelah Pemilu 1955.


Letkol M. Jusuf berangkat dari Jakarta ke Manado pada 2 Mei 1958. Di Manado M Jusuf akan menemui Letkol Herman Nicolaas Ventje Sumual juga. Sesampainya di sana, Jusuf bertemu dengan para perwira itu.


Pesan Nasution rupanya sudah tidak menarik lagi bagi Sumual dan para perwira lain. Sumual dkk. malah mengajak Jusuf untuk ikut serta dengan mengajak tokoh-tokoh Sulawesi Selatan agar bergerak pula dalam Permesta.


Tak hanya penolakan perwira itu, M Jusuf di Manado juga melihat pemandangan yang agak lain. Di Bandara Mapanget, Jusuf melihat empat pesawat tempur F-51 dan pembom B-26 dengan orang Amerika Serikat dan Taiwan sebagai pilotnya.


“Kalau mereka petualang, mereka adalah petualang paling muda yang pernah saya lihat. Mereka tampak sebagai sekelompok anak muda, seperti yang pernah saya lihat ketika saya mengunjungi West Point,” kata Jusuf kepada atase militer Amerika di Jakarta setelah dia pulang kembali ke Jakarta.


Jusuf melihat kesiapan kawan-kawannya asal Sulawesi Utara itu. Mereka tidak hanya sudah bersiap diri dengan para kombatan mereka, tapi juga sudah mendapat peralatan tempur dari Amerika. Operasi militer itu merupakan bagian dari operasi rahasia CIA di Indonesia dalam era Perang Dingin.


Jusuf meyakini bahwa orang-orang Amerika mengendalikan operasi militer di Sulawesi Utara itu. Terlebih, waktu di Manado Sumual bilang padanya bahwa soal peralatan mereka tinggal meminta saja dari Amerika.


“Para pemberontak tidak takut terhadap serangan udara pemerintah karena lapangan udara di sana kini sudah dilindungi dengan menggunakan meriam-meriam AA-90 mm buatan Amerika Serikat. Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri,” kata M. Jusuf dalam laporannya.


Perwira Taiwan berpangkat kolonel bahkan sedang melatih pasukan Permesta mengoperasikan meriam-meriam tersebut. Jadi secara mental maupun fisik, Permesta telah siap “mengoreksi” Jakarta.


Sebelum Jusuf datang, rupanya lapangan udara Morotai di Maluku Utara telah diduduki Permesta. Lapangan udara yang besar itu sangat baik bagi posisi Permesta atas masuknya bantuan Amerika. Selain dekat dengan pangkalan Amerika di selatan Jepang, Sulawesi Utara punya banyak kombatan yang mendukung Permesta. Mereka dipimpin Ventje Sumual dkk.


“Di daerah ini, rumput pun sudah Permesta,” kata Sumual dalam biografinya yang disusun Bert Supit dan Benny Matindas, Ventje Sumual-Menatap Hanya Ke Depan.


Setidaknya ada 6.000 tentara TNI aktif yang ikut Permesta di sana. Dengan kesiapan mental maupun fisik, mereka membuat operasi militer yang dilancarkan pemerintah pusat tidak semudah di Sumatra yang –menjadi basis Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia– sukses hanya dalam hitungan bulan.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
Neraka di Ghetto Cideng

Neraka di Ghetto Cideng

Jepang menyatakan Kamp Cideng sebagai ghetto “terlindungi”. Kenyataannya, hidup para interniran seperti di neraka.
S.K. Trimurti Menyalakan Api Kartini

S.K. Trimurti Menyalakan Api Kartini

S.K. Trimurti ikut membangun Gerwani, organisasi perempuan paling progresif. Namun, Trimurti mengundurkan diri ketika Gerwani mulai oleng ke kiri dan dia memilih suami daripada organisasi.
Pesta Panen dengan Ulos Sadum dan Tumtuman

Pesta Panen dengan Ulos Sadum dan Tumtuman

Kedua jenis ulos ini biasa digunakan dalam pesta sukacita orang Batak. Sadum untuk perempuan dan Tumtuman bagi laki-laki.
Hind Rajab dan Keheningan yang Memekakkan Telinga

Hind Rajab dan Keheningan yang Memekakkan Telinga

Film “The Voice of Hind Rajab” jadi antidot amnesia kisah bocah Gaza yang dibantai Israel dengan 335 peluru. PBB menyertakan tragedinya sebagai bagian dari genosida.
S.K. Trimurti Murid Politik Bung Karno

S.K. Trimurti Murid Politik Bung Karno

Sebagai murid, S.K. Trimurti tak selalu sejalan dengan guru politiknya. Dia menentang Sukarno kawin lagi dan menolak tawaran menteri. Namun, Sukarno tetap memujinya dan memberinya penghargaan.
bottom of page