top of page

M Jusuf "Jalan-jalan" ke Manado

Sulut panas, Jusuf diutus KSAD ke Manado. Ketika Jusuf datang, Permesta sudah siap dengan bantuan Amerikanya.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 12 Apr 2024
  • 2 menit membaca

Pada 1958, Kastaf Resimen Hasanuddin Letnan Kolonel (letkol) Andi Muhamad Jusuf mendapat perintah dari KSAD Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution untuk berkunjung ke Manado. Nasution ingin menenangkan para perwira menengah Angkatan Darat yang termasuk golongan anti-komunis namun memimpin tentara di Sulawesi Utara bergerak menentang pusat. Kepada mereka, Nasution menjanjikan akan membuat perubahan di Jakarta dengan membentuk kabinet baru di mana Nasution, Hatta, Sultan serta Wakil KSAD Gatot Subroto sebagai pemegang posisi Kunci.


“Kebinet ini tidak akan (ulangi tidak akan) mengikutsertakan tokoh-tokoh kiri,” kata Nasution, seperti dicatat Audrey Kahin dan George McTurnan Kahin dalam Subversi Sebagai Politik Luar Negeri.


Nasution berjanji kepada para perwira penting di Sulawesi Utara itu untuk menyelanyapkan komunisme juga. Mereka sama-sama resah dengan membesarnya PKI, terlebih setelah Pemilu 1955.


Letkol M. Jusuf berangkat dari Jakarta ke Manado pada 2 Mei 1958. Di Manado M Jusuf akan menemui Letkol Herman Nicolaas Ventje Sumual juga. Sesampainya di sana, Jusuf bertemu dengan para perwira itu.


Pesan Nasution rupanya sudah tidak menarik lagi bagi Sumual dan para perwira lain. Sumual dkk. malah mengajak Jusuf untuk ikut serta dengan mengajak tokoh-tokoh Sulawesi Selatan agar bergerak pula dalam Permesta.


Tak hanya penolakan perwira itu, M Jusuf di Manado juga melihat pemandangan yang agak lain. Di Bandara Mapanget, Jusuf melihat empat pesawat tempur F-51 dan pembom B-26 dengan orang Amerika Serikat dan Taiwan sebagai pilotnya.


“Kalau mereka petualang, mereka adalah petualang paling muda yang pernah saya lihat. Mereka tampak sebagai sekelompok anak muda, seperti yang pernah saya lihat ketika saya mengunjungi West Point,” kata Jusuf kepada atase militer Amerika di Jakarta setelah dia pulang kembali ke Jakarta.


Jusuf melihat kesiapan kawan-kawannya asal Sulawesi Utara itu. Mereka tidak hanya sudah bersiap diri dengan para kombatan mereka, tapi juga sudah mendapat peralatan tempur dari Amerika. Operasi militer itu merupakan bagian dari operasi rahasia CIA di Indonesia dalam era Perang Dingin.


Jusuf meyakini bahwa orang-orang Amerika mengendalikan operasi militer di Sulawesi Utara itu. Terlebih, waktu di Manado Sumual bilang padanya bahwa soal peralatan mereka tinggal meminta saja dari Amerika.


“Para pemberontak tidak takut terhadap serangan udara pemerintah karena lapangan udara di sana kini sudah dilindungi dengan menggunakan meriam-meriam AA-90 mm buatan Amerika Serikat. Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri,” kata M. Jusuf dalam laporannya.


Perwira Taiwan berpangkat kolonel bahkan sedang melatih pasukan Permesta mengoperasikan meriam-meriam tersebut. Jadi secara mental maupun fisik, Permesta telah siap “mengoreksi” Jakarta.


Sebelum Jusuf datang, rupanya lapangan udara Morotai di Maluku Utara telah diduduki Permesta. Lapangan udara yang besar itu sangat baik bagi posisi Permesta atas masuknya bantuan Amerika. Selain dekat dengan pangkalan Amerika di selatan Jepang, Sulawesi Utara punya banyak kombatan yang mendukung Permesta. Mereka dipimpin Ventje Sumual dkk.


“Di daerah ini, rumput pun sudah Permesta,” kata Sumual dalam biografinya yang disusun Bert Supit dan Benny Matindas, Ventje Sumual-Menatap Hanya Ke Depan.


Setidaknya ada 6.000 tentara TNI aktif yang ikut Permesta di sana. Dengan kesiapan mental maupun fisik, mereka membuat operasi militer yang dilancarkan pemerintah pusat tidak semudah di Sumatra yang –menjadi basis Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia– sukses hanya dalam hitungan bulan.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
transparant.png
bottom of page