- 2 jam yang lalu
- 4 menit membaca
SEORANG ksatria lazimnya tahu kapan dia mesti turun gunung. Bila sudah turun, dia juga mesti menghindari dunia yang digelutinya selama ini secara total dan menyibukkan diri dengan kegiatan spiritual.
Hal itulah yang dipilih Alex Heen Mengko. Begitu mundur dari kedinasannya di TNI, dia pulang dan tak lagi melibatkan diri dalam kegiatan militer apapun.
“Opa pulang kampung ke Manado, menjadi pemuka agamanya,” terang musisi Muhammad FR Mengko alias Prince Mengko, cucu Alex Mengku, kepada Historia.
Alex Mengko merupakan serdadu sejak era Belanda dan kemudian ikut mendirikan sebuah batalyon di TNI. Meski dirinya tercatat berasal dari Magelang, sebagaimana ditunjukkan kartu tawanan perangnya di zaman pendudukan Jepang, nama belakangnya menunjukkan keluarganya berakar dari Minahasa, Sulawesi Utara, yang dulunya adalah bagian dari Keresidenan Manado. Bisa jadi dia pernah dibesarkan di Magelang, Jawa Tengah.
Alex bertugas di Depot Mitraliur I Resimen Infanteri 4 Divisi 2 tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Dirinya merupakan prajurit dengan nomor stamboek 34992.
Meski masih belum berstandar tinggi, untuk menjadi prajurit di zaman kolonial seseorang mesti pernah bersekolah. Pun Alex, meski hanya sekolah dasar. Pendidikan itu pula yang membuatnya bisa mendapatkan pangkat sersan dua yang diraihnya sebelum menjadi tawanan perang.
“Rasanya kalau sudah jadi sersan sudah merupakan prestasi yang dapat dibanggakan,” kata Jaksa Agung Soegih Arto dalam Sanul Daca.
Meski punya peluang, tak semua pemuda bumiputra yang bersekolah bisa jadi sersan. Maka Alex Mengko bisa berbangga dengan capaiannya di zaman Hindia Belanda itu. Namun di zaman Jepang, dirinya hidup dalam kerangkeng atau pengawasan tentara Jepang.
Alex Mengko sendiri merupakan anak dari pasangan Wolter Andries Mengko dan Magdalena Mariam Mawikere yang lahir pada lahir pada 10 November 1915. Ayah-ibunya orang Minahasa, yang sering disebut sebagai orang Manado. Hal itu membawa konsekuensi tersendiri di zaman pendudukan Jepang, sebab orang Manado dianggap dekat dengan Belanda sehingga umumnya diawasi tentara Jepang.
Setelah Jepang kalah, Sersan Mengko bertugas kembali di KNIL. Dirinya ditempatkan Batalyon Infanteri ke-18 di Manado. Pangkatnya mencapai Fourier (bintara senior yang mengurus kebutuhan pasukan), yang terkadang disetarakan dengan sersan mayor. Setidaknya Alex adalah bintara senior berpengaruh di kalangan serdadu KNIL di sana. Posisi ini berperan bagi jalannya perjuangan kemerdekaan.
Pada 14 Februari 1946, serdadu KNIL di Manado memberontak terhadap militer Belanda dan mengibarkan bendera Merah-Putih. Setelah pemberontakan itu, banyak serdadu KNIL Minahasa itu berhubungan baik dengan para pemuda pro-Republik Indonesia di Sulawesi Utara meski mereka bertahan hidup dari gaji sebagai serdadu.
Setelah April 1950, sentimen pro RI meningkat di Sulawesi Utara, termasuk di kalangan KNIL. Laurens Manus dkk, dalam Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Daerah Sulawesi Utara (1991:160-161) mencatat 20 orang serdadu KNIL di bawah Sersan Tuturoong menghilang dari tangsi. Beberapa bintara seperti Fred Bolang dan Alex Mengko pun ditahan meski tak lama. Dalam Memoar Hario Kecik Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit Volume 1, Suhario Padmodiwiryo alias Hario Kecik menyebut beberapa serdadu KNIL, termasuk juga Alex Mengko, sempat berencana membongkar gudang senjata namun akhirnya gagal.
Sersan Alex Mengko diperintahkan komandan batalyon, Mayor FJ van Nues, untuk membujuk para serdadu yang kabur itu agar kembali ke tangsi. Namun, Alex Mengko memilih kabur. Setelah dirinya pergi, keadaan menjadi lebih buruk bagi wajah komando Belanda di sana.
Tidak ada darah yang tertumpah pada 3 Mei 1950. Namun, ada penangkapan para pejabat pro-Belanda di sana. Koran Het Vrije Pers tanggal 23 Mei 1950 memberitakan, Alex Mengko bergabung dengan para pelarian KNIL dan membangun batalyon yang bermarkas di Tomohon. Mengko dkk., yang tak setuju dengan para pimpinan KNIL yang menyuruh mereka diam menjelang dibubarkannya KNIL, tak ingin diserahterimakan dari KNIL ke Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Mereka justru ingin bergabung sendiri ke APRIS.
Mayor van Nues, disebut Bert Supit & Benny Matindas dalam Ventje Sumual Pemimpin Yang Menatap Hanya Ke Depan, sebagai pemimpin yang peduli pada masa depan anak buahnya di KNIL. Dia tak terlalu pusing dengan sikap Alex Mengko dan kawan-kawan KNIL yang ingin masuk APRIS.
Batalyon yang dibentuk Alex Mengko dan para pelarian KNIL tadi lalu dinamai Batalyon 3 Mei, sesuai hari pembentukannya. Bekas Sersan Mayor Alex Mengko menjadi komandan pasukan baru itu dengan pangkat mayor. Pada 6 Mei 1950, komando pasukan diserahkan dari Mayor Nues kepada Mayor Mengko. Setelah Republik Indonesia Serikat (RIS) bubar, APRIS lebih dikenal sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI).
“Diangkatnya seorang sersan fourier sebagai komandan batalyon tidak kami nilai sebagai peristiwa aneh,” catat Hario Kecik, yang melihat realitas di Surabaya tahun 1945 juga banyak peristiwa aneh soal kepangkatan tentara. “Walaupun HV Worang sebagai komandan salah satu batalion brigade kami, memaki-maki cara mudah Mengko menjadi Mayor.”
Hein Victor Worang (1919-1982) juga anggota KNIL sebelum 1942. Jika Alex Mengko di infanteri, Worang di zeni. Setelah ikut Kaigun Heiho, Worang bergabung dengan Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Surabaya. Dengan cepat Worang menjadi komandan batalyon pasca-Pertempuran 10 November 1945. Belakangan, Worang pernah menjadi gubernur Sulawesi Utara.
Alex Mengko dekat dengan Mayor Herman Nicolaas Ventje Sumual, yang di era 1945-1949 juga berada di Jawa. Mereka sama-sama terhitung orang Romboken, sebuah daerah di dekat Tondano.
Batalyon berlambang manguni (burung hantu) itu pada Juli 1950 dikirim ke Pulau Buru, lalu dari 28 September 1950 hingga 20 Desember 1950 dikirim ke Ambon. Di Ambon, mereka melawan Angkatan Perang Republik Maluku Selatan. Sedari 1953-1956, batalyon ditugaskan melawan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat.
Buku Siliwangi dari Masa ke Masa menyebut Mayor Alex Heen Mengko sebagai komandan Batalyon 3 Mei hanya dari Mei hingga 17 Oktober 1950. Ia digantikan Kapten Ishak Djuarsa.
Pasca-Alex Mengko tak jadi komandan lagi, beberapa anggota Batalyon 3 Mei mengalami penurunan pangkat, status keprajuritannya mereka terganggu. Tapi meski tanpa Alex Mengko dan pendiri-pendiri lain, Batalyon 3 Mei terus berkiprah dalam sejarah. Pada 1 September 1951, Batalyon 3 Mei dijadikan Batalyon Infanteri Corps Tjadangan Umum (CTU) V dan kemudian dijadikan Batalyon Infanteri 324 yang berada di Jawa Barat. Pada 8 Mei 1963, Panji Siluman Merah menjadi Panji Batalyon ini. Namun, batalyon ini dinonaktifkan pada 1975.
Mayor Alex Mengko sendiri tidak lama di TNI. Ia dan Batalyon 3 Mei kini telah menjadi bagian sejarah Indonesia meskipun kurang disebut.*



















Komentar