top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Sejarah Mayor dan Sersan Mayor

Mayor dan Sersan Mayor sejarahnya saling terkait. Kini, Sersan Mayor hanyalah bintara tinggi berpengalaman.

19 Mar 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Lukman dan Jenderal Naga Bonar. Lantaran kesalahannya, Lukman diturunkan pangkatnya dari Mayor menjadi Sersan Mayor. (Tangkapan layar film Naga Bonar).

  • 20 Mar 2025
  • 2 menit membaca

SETELAH ada laporan bahwa Mayor Lukman menghamili gadis desa, maka Jenderal Nagabonar memberi tindakan. Dalam sebuah upacara, diumumkan pangkat Mayor Lukman diturunkan menjadi sersan mayor. Lukman pun pingsan mendengarnya.


Meskipun adegan kocak dalam film Nagabonar (1986) itu hanyalah sebuah hiburan, ia tetap berangkat dari fakta historis. Adegan tersebut menggambarkan bagaimana situasi di masyarakat bawah saat Perang Kemerdekaan. Termasuk soal masih acak-acakannya organisasi militer, yang dibuktikan dengan kepangkatan.

 

Pangkat mayor yang disandang Lukman sebelum dihukum dengan pangkat sersan mayor yang disandangnya pasca-dihukum, merupakan dua pangkat yang tingkatannya berbeda jauh. Yang pertama termasuk pangkat perwira menengah, yang terakhir bintara. Meski begitu, ada keterkaitan sejarah antara mayor dengan sersan mayor.


Dalam bahasa latin, mayor berarti besar. Ia lawan dari kata minor yang berarti kecil. Sedangkan “Sersan”, menurut Raymond Oliver dalam makalah berjudul “Why Is Colonel Called is Kernel?”, “bermula dari pelayan, serviens dalam bahasa Latin.” Jadi Sersan Mayor diartikan sebagai sersan besar. Dia lebih tinggi daripada sersan biasa.


Dalam kepangkatan militer, Sersan Mayor setidaknya sudah digunakan pada abad ke-16. Militer negeri-negeri Eropa yang memulainya.


“Pada masa itu dia adalah seorang perwira, yang kedua atau ketiga dalam komando resimen atau unit serupa,” catat Raymond Oliver.


Sekitar abad ke-17, Prancis meniru Spanyol dalam membentuk resimen yang terdiri kompi-kompi. Kesemuanya dipimpin oleh seorang kolonel. Kolonel kala itu masih longgar pemilihannya. Terkadang, para kapten memilih salah satu dari mereka untuk menjadi kolonel, letnan kolonel, dan juga sersan mayor. Kolonel biasanya sering absen di pasukan, sehingga yang tersisa hanya letnan kolonel dan sersan mayor.


“Bagian penting dari tugas Sersan Mayor adalah membentuk kompi menjadi unit resimen dan menjaga mereka dalam formasi yang tepat dalam pertempuran atau dalam perjalanan,” tulis Raymond Oliver.


Dalam menjaga tugasnya, seorang sersan mayor haruslah memiliki suara yang lantang. Selain itu, lebih berwibawa di dalam pasukan.


Pada abad ke-17 dan ke-18, setelah resimen menjadi kesatuan yang permanen, pangkat Sersan Mayor yang merupakan hasil pilihan kapten-kapten, tidak lagi disebut “sersan mayor” melainkan hanya “mayor” saja. Seorang mayor adalah adalah perwira staf resimen.


“Mungkin Kapten lainnya keberatan memiliki Sersan ‘besar’ di atas mereka dan Sersan lain di bawah mereka,” kata Raymond Oliver.


Di masa lalu, terdapat pangkat Sersan Mayor Jenderal juga. Namun kemudia, kata “Sersan” di depannya dihilangkan, maka jadilah Mayor Jenderal.


Kini, pangkat Sersan Mayor di atas Kapten memang sudah tidak ada lagi, namun pangkat Sersan Mayor di bintara masih tetap eksis. Di Indonesia, Sersan Mayor berada di bawah Pembantu Letnan Dua. Sersan Mayor sekarang hanyalah sersan tertinggi di antara prajurit biasa alias prajurit senior yang berpengalaman.


Padahal, Sersan adalah pangkat tertinggi prajurit dari kalangan rakyat jelata di Eropa era feodal. Berhubung hanya golongan bangsawan yang bisa jadi perwira, mereka pun tidak bisa menjadi perwira. Kemungkinan, pangkat Sersan Mayor diciptakan untuk mereka para rakyat jelata. Keadaan berubah setelah orang biasa yang berpendidikan bisa menjadi perwira.


“Sebagai seorang sersan mayor, ia memerlukan kemahiran teknik militernya dengan menempuh pendidikan spesialisasi lain dan memperdalam spesialisasi yang sudah dimiliki. Ia dapat diangkat menjadi Sersan Mayor kompi, Sersan Mayor batalyon dan seterusnya,” tulis Sayidiman Suryohadiprojo dalam Si Vis Pacem Para Bellum: Membangun Pertahanan Negara yang Modern dan Efektif.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Murka karena utusannya dibantai dengan bengis, Sultan Mehmed II membalas dengan kekuatan penuh. Walau berhasil kabur, nasib Vlad Dracula berakhir tragis.
Pahit Getir Hidup Sjahrir

Pahit Getir Hidup Sjahrir

Menjelang akhir hayatnya, Sutan Sjahrir hidup sebagai tahanan dalam perawatan. Namun, justru pada saat itulah putrinya merasakan kehidupan sebagai keluarga yang utuh.
Gowa Masuk Islam

Gowa Masuk Islam

Islamisasi di Gowa dan Makassar makan waktu panjang meskipun raja-raja di sana sangat terbuka.
Pusat Listrik Negara di Medan Merdeka

Pusat Listrik Negara di Medan Merdeka

Menikmati secangkir kopi di sebuah kedai yang dulunya berperan dalam penerangan kota. Bangunan ini menjadi perusahaan pemasok listrik sejak masa kolonial.
bottom of page