top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Cerita Mayor Selamat Ginting Cari Senjata ke Singapura

Perkara nama, seorang mayor TNI yang mencari senjata ditahan petugas imigrasi masuk ke Singapura. Hampir berujung baku hantam.

23 Mei 2024

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Mayor Selamat Ginting bersama istrinya. Foto: Repro cover "Kilap Sumagan: Biografi Selamat Ginting" karya Tridah Bangun dan Hendri Chairudin.

Dalam perang kemerdekaan, pejuang Indonesia butuh senjata untuk menghadapi tentara Belanda. Ke mana saja senjata dicari. Di Sumatra Utara, senjata-senjata eks serdadu Jepang yang dibuang ke laut diburu oleh kelompok pejuang, baik laskar maupun tentara Republik. Mereka rela menyelam sampai dasar laut, kemudian merakit kembali senjata yang telah berkarat.


Mayor Bedjo, komandan TNI Stoottroep Brigade B, mengerahkan banyak anggota pasukannya mencari senjata ke laut. “Mayor Bedjo banyak memperoleh senjata dari hasil memancingnya di Laut Belawan. Senjata itu terdiri dari senjata-senjata yang sengaja dibuang Jepang. Senjata Jepang yang bakal diserahkan kepada Sekutu,” ungkap Edisaputra, penulis biografi Bedjo dalam Bedjo: Harimau Sumatra dalam Perang Kemerdekaan.


Selain di laut, ada pula komandan yang mencari senjata sampai ke luar negeri, seperti Mayor Selamat Ginting. Tapi, masuk ke negara orang butuh paspor. Dalam suasana perjuangan, boro-boro paspor, bisa sampai ke negara yang dituju tanpa kena endus intel Belanda saja sudah bagus.



Mayor Selamat Ginting merupakan komandan TNI Brigade Mobil. Anggotanya berasal dari laskar Napindo Resimen Halilintar yang berbasis di Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. Pasukan Selamat Ginting berkekuatan 3 batalion, 1 kompi kavaleri pasukan berkuda, dan kompi bantuan artileri. Untuk membekali pasukannya yang besar itu, Selamat Ginting berusaha mendatangkan pasokan senjata dari luar negeri.    


Pertengahan April 1948, Selamat Ginting berangkat ke Bukittinggi, markas Komandemen Sumatra, meminta persetujuan panglima komandemen Jenderal Mayor Suhardjo Hardjowardojo. Pada dasarnya, Panglima Suhardjo mengizinkan rencana Selamat Ginting. Tapi, berhubung kas negara sedang cekak, maka markas komandemen tidak memberikan dana. Dengan demikian, biaya perjalanan dan dana membeli senjata ditanggung sendiri oleh Selamat Ginting.


Di Bukittinggi, Selamat Ginting bertemu orang Cina bernama Lim Kiat. Orang inilah yang menjadi penujuk jalan sekaligus penghubung dengan sindikat penjual senjata di Singapura. Polisi setempat kemudian memberikan surat jalan bagi Selamat Ginting. Itupun dengan nama samaran: Machmud bin Atong. Penyamaran ini bertujuan agar identitas Selamat Ginting tidak terendus Belanda. Dimulailah petualangan Machmud bin Atong alias Selamat Ginting ke Singapura.



Tidak seperti sekarang, perjalanan ke Singapura kala itu memakan waktu lebih lama. Dari Bukittinggi, Selamat Ginting bersama Lim Kiat menuju ke Riau. Mereka melalui medan yang terjal, seperti jalan-jalan rusak sampai jembatan putus hingga tibalah di  tepi Sungai Siak. Dari Sungai Siak naik kapal tongkang singgah ke Bagan Siapi-api baru kemudian ke Singapura.


Setibanya di pelabuhan Singapura, petugas imigrasi memeriksa surat-surat Selamat Ginting. Ketika surat jalan diperiksa, nama yang tertera kurang begitu jelas. Petugas imigrasi menanyakan langsung kepada Selamat Ginting, “Mahmud bin apa?”


Entah karena gugup lantaran baru kali pertama ke luar negeri, atau kurang dengar, Selamat Ginting salah tangkap maksud petugas imigrasi Singapura. Dia kira, petugas imigrasi mengatakan “Machmud binatang?”. Sontak saja Selamat Ginting merasa terhina. Mayor TNI yang punya anak buah sebanyak tiga batalion itu naik pitam dirinya dikata binatang. Hampir saja petugas imigrasi itu dijotosnya namun keburu dilerai Lim Kiat.



Menurut pengakuan Selamat Ginting, seperti dituturkannya kepada penulis biografi Tridah Bangun dan Hendri Chairudin dalam Kilap Sumagan: Biografi Selamat Ginting: Salah Seorang Penggerak Revolusi Kemerdekaan di Sumatra Utara, begitulah rupanya kalau dasar orang kampungan seperti dirinya pada waktu itu. Setelah tertahan sebentar oleh petugas imigrasi, Selamat Ginting baru bisa masuk Singapura. Namun, setelah beberapa hari di sana, dia gagal mendapat senjata yang diperlukan. Di Singapura, Selamat Ginting banyak menghabiskan waktu jalan-jalan dan berkenalan dengan pedagang Cina yang kemudian jadi toke berpengaruh di Indonesia setelah perang. Senjata baru diperolehnya setelah mencari sampai ke Penang, Malaya. Demikianlah kisah Machmud bin Atong alias Mayor Selamat Ginting yang sempat bikin geger di pelabuhan Singapura di zaman revolusi fisik.  

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

A Historical Pilgrimage to Petamburan, Jakarta (3-End)

A Historical Pilgrimage to Petamburan, Jakarta (3-End)

Tan Tjeng Bok was known as an actor for three eras. He was once the highest-paid artist, but his life ended in sorrow. He was buried in the Petamburan Public Cemetery.
Membuka Tirai Panggung Olimpiade Musim Dingin

Membuka Tirai Panggung Olimpiade Musim Dingin

Singapura menyusul Filipina, Thailand, Malaysia, dan Timor-Leste ikut Olimpiade Musim Dingin. Indonesia kapan?
Sultan Alaudin Sulit Dikalahkan Belanda

Sultan Alaudin Sulit Dikalahkan Belanda

Dengan membuat kerajaannya terbuka sehingga kuat, Sultan Alauddin sulit ditaklukkan Belanda.
Senandung Nada di Lokananta

Senandung Nada di Lokananta

Studio musik pertama dan terbesar di Indonesia yang merekam suara-suara bernilai baik dari segi artistik. Lokananta tetap eksis sebagai saksi perkembangan musik Indonesia.
Demam Telenovela di Indonesia

Demam Telenovela di Indonesia

Bermula dari sandiwara radio di Kuba, revolusi membuka jalan alih wahana radionovela menjadi telenovela. Sinema Amerika Latin ini menyebar ke berbagai negara termasuk membanjiri layar kaca Indonesia.
bottom of page