- 11 Sep 2024
- 5 menit membaca
Diperbarui: 1 Feb
PERANG Kemerdekaan di Tapanuli meninggalkan cerita kelam tentang para pejuang yang saling bertempur satu sama lain. “Porang ni si Bedjo-Malau” begitu kata orang-orang zaman dulu dalam bahasa setempat. Perang saudara antara Mayor Bedjo dan Mayor Liberty Malau ini jadi kenangan pahit bagi masyarakat Tapanuli masa itu.
“Saya pada waktu itu menggambarkan pihak yang bertentangan ini sebagai iblis dan setan. Satupun di antaranya jangan ditemani, karena bagaimanapun suatu ketika kita akan ditelan juga,” kenang Maraden Panggabean dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi.
Perseteruan Bedjo-Malau bermula dari Peristiwa 10 September 1948. Saat itu, Bedjo menerbitkan perintah penangkapan terhadap pejabat tinggi Sub Komandemen Sumatra Timur dan Tapanuli. Mereka yang masuk daftar penangkapan yaitu Mr. Abdul Abbas (komandan Sub Komandemen), Mangaraja Gunung (oditur militer Padang Sidempuan) dan sejumlah perwira TNI dari Brigade XI dan XII: Mayor H. Siagian, Mayor Maraden Panggabean, Mayor Ricardo Siahaan, Letkol Pandapotan Sitompul, Kapten Koima Hasibuan, Kapten Daulay, Letnan Sinta Pohan, Letnan Abdul Rivai Harahap, Letnan Augus Marpaung, Kapten Batu. Pelaksanaan operasi diserahkan kepada Kapten Payung Bangun yang bertindak sebagai kepala Polisi Militer Sub Komandemen.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















