top of page

Yang Santai di KAA

29 negara di kawasan Asia Afrika, ditambah tiga negara peninjau, mengirimkan delegasinya ke Bandung, guna memenuhi undangan Indonesia untuk menghadiri Konferensi Asia-Afrika. Hotel Preanger dan Savoy Homann menjadi tempat singgah para delegasi selama KAA berlangsung.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Masyarakat menyambut delegasi KAA. (ANRI).

  • 4 Apr 2024
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 18 Apr

DUA hari jelang KAA dibuka, para delegasi negara undangan sudah tiba di Indonesia. Para delegasi ini dari negaranya masing-masing tiba di Jakarta, lalu melanjutkan perjalanan melalui darat ke Bandung. Kota Bandung sudah dipenuhi dengan poster-poster tentang penyelenggaraan KAA.


Tepat malam Minggu, 16 April 1955, Sekretariat Bersama KAA, menghelat acara penyambutan berupa makan malam di Gedung Merdeka, yang semula disebut Gedung Concordia. Tampak dalam gambar, seorang pelayan, menuangkan minuman kepada keempat delegasi dari Afrika. Lelah akibat perjalanan panjang seolah sirna. Suasana santai, akrab, terlihat dalam acara makan tersebut.

    Ingin membaca lebih lanjut?

    Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

    bg-gray.jpg
    Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
    bg-gray.jpg
    Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
    bg-gray.jpg
    Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
    bg-gray.jpg
    Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
    transparant.png
    bottom of page