top of page

Mengucilkan Israel di Arena Olahraga (Bagian I)

Hampir tak adanya negara Asia yang mau bermain melawan Israel membuat persepakbolaan negeri itu di masa awal sulit berkembang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Timnas Israel sempat sekali mencicipi Piala Dunia 1970 di Meksiko/Foto: UEFA.com

  • 11 Des 2017
  • 2 menit membaca

PERKARA politik yang menyangkut Israel hampir selalu merembet ke berbagai aspek, termasuk olahraga. Di masa lalu, kebijakan Israel –yang menduduki Palestina sejak 1948– terhadap Palestina acap mendapat balasan berupa tekanan, pengucilan, hingga insiden yang menewaskan belasan atlet Israel.


Dalam beragam kompetisi, Israel mendapat pengucilan lewat sejumlah boikot dari negara-negara Arab dan para pendukung kemerdekaan Palestina seperti Indonesia. Negara-negara anti Israel keukeuh memboikot di berbagai arena olahraga. Negara manapun yang memperbolehkan atletnya bertanding melawan atlet Israel akan kena cap mendukung Israel.


Boikot Israel antara lain terjadi menjelang Piala Dunia 1958 di Swedia. Aturan baru FIFA tentang pembagian negara calon peserta berdasarkan geografis membuat Israel, yang berada di zona kualifikasi Eropa, harus pindah ke Asia guna mengikuti kualifikasi. Alhasil, Israel, yang menghuni Grup 2 zona Asia (AFC) bersama Turki, bisa melenggang tanpa peluh karena Turki menarik diri sebagai aksi boikot.


Di babak berikutnya, Israel bahkan tak sekali pun tampil. Mesir, Sudan, dan Indonesia menolak main melawan negeri Mungil di timur Laut Mediterania itu. Indonesia memilih mundur karena Sukarno, yang getol mendengungkan kampanye anti-kolonialisme dan imperialisme baru, melarang. “Itu sama saja mengakui Israel,” ujar Maulwi Saelan, penjaga gawang sekaligus kapten timnas Indonesia, menirukan omongan Sukarno, kepada Historia. “Ya, kita nurut. Nggak jadi berangkat.” (baca: Mimpi Indonesia di Piala Dunia Terganjal Israel, http://historia.id/olahraga/mimpi-indonesia-di-piala-dunia-terganjal-israel)

Akibat boikot itu, FIFA terpaksa turun tangan. “FIFA turun tangan dengan mencarikan lawan bagi tim merana ini. Lawan pertama yang ditunjuk adalah Belgia, tim yang nilainya paling tinggi di antara tim-tim Zona Eropa yang gagal lolos kualifikasi,” tulis Owen A McBall dalam Football Villains.


Tapi Israel kembali sial lantaran Belgia menolak meladeni. Negeri itu baru bisa bertanding setelah FIFA menunjuk Wales. Apes bagi Israel, negeri itu keok 0-2 dalam dua laga home-away sehingga Wales yang berhak berangkat ke Swedia.


Seakan tak punya tempat di Asia, sejak kualifikasi itu Israel tak sekali pun bisa melawan negara-negara Asia.


Kesempatan Israel mencicipi Piala Dunia baru terlaksana ketika negeri itu lolos ke Piala Dunia Meksiko 1970. Itupun terjadi lantaran FIFA melebur zona Asia dan Oseania dalam kualifikasi. Israel berada di Grup 2 zona Asia/Oseania bersama Korea Utara (Korut) dan Selandia Baru. Israel hanya mengalami pemboikotan dari Korut. Sedangkan melawan Selandia Baru, Israel dua kali menang (4-0 dan 2-0) sehingga maju ke final kualifikasi. Di final, Israel menggasak Australia (1-0 dan 1-1) sehingga berhak ke Meksiko.


Empat tahun kemudian, Presiden FIFA Joao Havelange memutuskan Israel masuk ke dalam zona Oseania (OFC). Keputusan itu berangkat dari ditendangnya Israel dan Taiwan dari AFC. “Terkait Taiwan, argumentasi (AFC) adalah: hanya boleh ada satu anggota asosiasi yang mewakili China, sementara dikeluarkannya Israel merupakan kesuksesan lobi-lobi negara-negara Arab,” ujar Ben Weinberg dalam Asia and the Future of Football.


Sejak itu, Israel mesti bersusah-payah melakukan perjalanan lebih dari separuh bumi untuk memainkan kualifikasi Piala Dunia. Meski hanya Australia dan Israel tim kuat di zona itu, pemenang kualifikasi zona Oseania selalu gigit jari di playoff lantaran bertemu wakil-wakil dari UEFA (Eropa) atau Conmebol (Amerika Latin).


“Pengasingan” Israel baru berakhir pada 1994 setelah negeri itu diterima, lewat penjajakan selama dua tahun, sebagai bagian dari zona Eropa. Toh, di Eropa negeri dari penyerang Liverpool Rony Rosenthal dan gelandang Brescia Tal Banin itu tak bisa berbuat banyak karena tergolong “anak bawang”. Setelah Piala Dunia 1970, Israel belum pernah lagi mencicipi gemerlap turnamen empat tahunan itu.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Pernah populer sebagai pohon peneduh bersama asam jawa dan flamboyan. Kini, tanaman ini menjadi salah satu pohon yang paling populer untuk aktivitas penghijauan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah berduka secara beruntun. Kehilangan orang dekat dalam waktu singkat.
bg-gray.jpg
Penyebaran pamflet provokatif oleh Front Pemuda Sunda bikin geger. Parlemen sampai memanggil perdana menteri. Ketidakadilan jadi pangkalnya.
bg-gray.jpg
Tubagus Angke asal Banten melanjutkan Fatahillah memimpin Jayakarta. Sebagai Pangeran Jayakarta II, dia membawa Pelabuhan Sunda Kelapa menandingi Pelabuhan Malaka.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Produksi penulisan sejarah maupun penyebaran informasi kesejarahan harus merespons situasi zaman.
Produksi penulisan sejarah maupun penyebaran informasi kesejarahan harus merespons situasi zaman.
Budaya bahari bisa tumbuh bukan semata-mata karena infrastruktur fisik.
Budaya bahari bisa tumbuh bukan semata-mata karena infrastruktur fisik.
Teknokrat olahraga yang berperan penting dalam kesuksesan Susi Susanti di Barcelona. Diperankan aktor kawakan Lukman Sardi.
Teknokrat olahraga yang berperan penting dalam kesuksesan Susi Susanti di Barcelona. Diperankan aktor kawakan Lukman Sardi.
Sejarawan Ayang Utriza Yakin paparkan beberapa kesalahan teknis dalam penyusunan Kamus Sejarah Indonesia Jilid I terbitan Kemendikbud.
Sejarawan Ayang Utriza Yakin paparkan beberapa kesalahan teknis dalam penyusunan Kamus Sejarah Indonesia Jilid I terbitan Kemendikbud.
Bagi Hamka film terkadang memberikan inspirasi kepada kegemarannya mengarang. Namun dia pun berpendapat film juga kerap memberi dampak buruk.
Bagi Hamka film terkadang memberikan inspirasi kepada kegemarannya mengarang. Namun dia pun berpendapat film juga kerap memberi dampak buruk.
transparant.png
bottom of page