- 3 jam yang lalu
- 4 menit membaca
PENGHUNI kamp interniran Jepang tak hanya orang-orang Belanda. Warga negara lain yang dicurigai Jepang juga ikut dicokok masuk kamp interniran. Hal inilah yang terjadi kepada Muriel Stuart Walker, seorang jurnalis kebangsaan Skotlandia.
“Dia orang Amerika kemudian ditahan di Kediri dan sempat ditelanjangi. Dalam keadaan telanjang bulat, ia disuruh jalan,” kata pakar cagar budaya Nunus Sapardi dalam diskusi bukunya beberapa waktu silam.
Nunus merupakan penulis dua buku tentang kamp interniran Jepang, Documenta Historica Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Revolusi di Indonesia dan Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran.
Meski berdarah Skotlandia-Viking, Muriel memiliki kewarganegaraan Amerika setelah ikut ibunya pindah ke Amerika di usia remaja. Ia kemudian menikah dengan Karl Jenning Pierson, warga Amerika keturunan Swedia. Pada 1932, Muriel meninggalkan suaminya dan pindah ke Bali. Ia terpikat dengan lansekap dan budaya Bali setelah menyaksikan film Bali, The Last Paradise ketika berjalan-jalan di Hollywood Boulevard.
Setibanya di Bali, Muriel diangkat anak oleh Anak Agung Ngurah, penguasa Puri Bangli, yang memberinya nama K’tut Tantri. Dalam tradisi Bali, K’tut adalah sebutan untuk anak keempat. Di Bali, K’tut Tantri menjadi pelukis dan menjalankan usaha penginapan. Kehidupannya yang tenang di Pulau Dewata berubah ketika Jepang datang pada 1942.
Ancaman serangan tentara Angkatan Laut Jepang menyebabkan K’tut Tantri pindah ke Surabaya. Hingga suatu hari, dia ditangkap oleh polisi rahasia Jepang, Kempeitai. Identitasnya sebagai warga Amerika ketahuan dan dicurigai sebagai agen intelijen Sekutu. Dia pun dimasukan ke kamp interniran di Kediri.
Dalam memoarnya Revolt in Paradise, K’tut Tantri mengisahkan suramnya suasana di kamp interniran. Kamar selnya hanya dilengkapi sehelai tikar rombeng dan sehelai lagi untuk pembungkus segenggam jerami. Selain itu, ada galian lobang di tanah sebagai kakus berikut seember air kotor untuk cebok. Di tempat itu, dia menghabiskan waktu seminggu menunggu panggilan interogasi.
Jatah makan di kamp interniran hanya dua kali sehari, pagi dan malam. Menunya pun memprihatinkan. Untuk sarapan, hanya nasi dengan garam. Kelaparan sudah jadi penderitaan yang lumrah. Tidur beralaskan tikar yang dipenuhi kutu-kutu jerami. Kesempatan mandi dan menyisir rambut jangan diharapkan, karena tidak pernah diizinkan. Kekotoran dan kelaparan adalah senjata untuk meruntuhkan mental para tawanan. Namun, yang paling menjijikkan, ketika dia harus buang hajat yang sungguh merendahkan harga dirinya sebagai manusia sekaligus perempuan.
“Tapi, yang paling terkutuk ialah kalau pengawal memandang kami tak putus-putusnya pada waktu kami terpaksa menggunakan lobang di lantai yang jijik itu,” kenang Tantri dalam memoarnya yang dialihbahasakan menjadi Revolusi di Nusa Damai.
K’tut Tantri juga menyaksikan kelakuan orang Belanda yang tanpa malu mengaku berdarah Indonesia demi mencari selamat dari kekejaman Jepang. Pemerintah pendudukan Jepang mengumumkan, orang Belanda keturunan Indonesia tidak akan ditawan dan yang diinternir akan dibebaskan. Menyambut maklumat itu, banyak keluarga Belanda totok dari kelas atas mendaftarkan diri untuk diinternir sebagai orang Indo. Berbeda halnya dengan perangai mereka di masa kolonial yang congkak dan angkuh terhadap pribumi.
“Sebelum Jepang datang tak ada orang yang lebih angkuh daripada Belanda-Belanda ini. Jangan coba-coba menyebut mereka keturunan Indonesia sebab ini berarti menghina. Dengan perasaan getir aku memandangi beberapa pejabat Belanda dengan istri mereka, yang pernah mengecewakan kehidupanku di Bali karena bergaul rapat dengan penduduk, yang sekarang mengaku dirinya sebagai golongan Indo. Malah istri seorang bekas pembesar tinggi tidak segan-segan untuk mendaftarkan diri,” sentilnya.
K’tut Tantri mendapat deraan siksa selama di kamp interniran. Ketika diinterogasi, dia dipaksa mengaku sebagai mata-mata Sekutu. Jika jawabannya tidak memuaskan, dia diintimidasi dengan pukulan fisik yang menyebabkan tubuhnya memar dan lebam. Begitulah yang dialaminya selama tiga minggu menjalani interogasi. Hingga akhirnya, tentara Jepang mengaraknya ke jalanan alun-alun Kediri dengan melucuti pakaiannya. Namun, dia memuji akhlak orang Jawa yang menjunjung tinggi susila dengan tidak membuka pintu dan jendela rumah mereka.
“Sekilas pandang melihat tindakan itu Jepang, orang merasa jijik dan menyingkir ke segala jurusan. Dan pintu-pintu rumah dan jendela ditutup. Tak seorang pun terlihat di tengah jalan, kecuali Jepang dan perempuan kulit putih yang memar, kotor, dan tak berpakaian sehelai benang pun, yang mereka coba untuk menjatuhkan akhlaknya dan melemahkannya,” tutur K’tut Tantri.
Meski proses interogasinya sarat kekerasan dan tak berperikemanusiaan, K’tut Tantri terkesan kepada beberapa penjaga yang bersahabat. Seperti seorang penjaga yang menawarkan makan bakmi setelah dia menjalani pemeriksaan, atau penjaga yang menghiburnya dengan bernyanyi lagu Love in wilderness dengan aksen Jepang.
Bebas dari Kamp Interniran
Lepas dari kamp interniran, K’tut Tantri dipenjara di Surabaya selama dua tahun hingga Jepang angkat kaki dari Indonesia. Setelahnya, dia bergabung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya. Dia menjadi penyiar radio untuk Radio Barisan Pemberontak Indonesia (RBPRI) di bawah pimpinan Bung Tomo.
Dengan nama panggung Surabaya Sue, peran K’tut Tantri menjadi sorotan ketika dia menyiarkan serangan Inggris dalam Pertempuran Surabaya pada November 1945. Jalannya pertempuran tersiar ke seluruh Eropa, menuai simpati dari berbagai negara terhadap perjuangan rakyat Surabaya.
K’tut Tantri kemudian menjadi penyiar radio Voice of Free Indonesia yang mengudara ke mancanegara, sekaligus membuatnya dekat dengan para pemimpin Indonesia, seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Amir Sjarifoeddin. Di masa revolusi, dia terlibat dalam penyelundupan opium untuk dibarter dengan senjata. Dia bersahabat dekat dengan Presiden Sukarno pada 1950–1960-an.
K’tut Tantri berhasil melalui berbagai kesulitan semasa hidupnya. Dari semuanya, masa pendudukan Jepang, terutama kehidupan di kamp interniran sebagai episode paling pahit yang hampir merenggut nyawanya. Kendati demikian, dia dalam memoarnya tak menyingkap sepenuhnya apa yang terjadi di kamp, seperti alasan dia dibebaskan.
Timothy Lindsey dalam The Romance of K’tut Tantri and Indonesia: Text Scripts History and Indentity menduga K’tut Tantri menjalin kerja sama dengan Jepang. Bahkan, dia dispekulasikan menjadi wanita simpanan pejabat tinggi Jepang. Namun, hingga wafatnya pada 27 Juli 1997 dalam usia 98 tahun, misteri itu tak pernah terjawab. K’tut Tantri membawanya lenyap bersama ke perabuannya di Bali, sebagaimana wasiatnya. Atas jasa dan perjuangannya, pada 1998 pemerintah Indonesia menganugerah penghargaan Bintang Mahaputera Nararya.*



















Komentar