top of page

Jenderal Jepang Perebut Bandung Divonis Mati

Perwira Jepang yang memimpin perebutan Lanud Kalijati dan Bandung ini divonis hukuman mati karena pembantaian di Ciater.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kolonel Shoji Toshishige, komandan pasukan Jepang dalam pertempuran merebut Jawa. (Wikimedia Commons).

15 Apr
3 menit membaca

ERETAN Wetan di bagian barat Kabupaten Indramayu menjadi daerah pendaratan penting pasukan Jepang sewaktu Perang Pasifik. Setelah mendarat, mereka tidak bergerak ke arah barat menuju Jakarta, melainkan terus merengsek ke selatan Jawa Barat dengan tujuan Bandung. Tentara Jepang bergerak cepat seperti sekutunya di Eropa, Jerman, yang menerapkan Perang Kilat (Blitzkrieg).

 

Jepang setidaknya mengerahkan Divisi ke-2 dan Divisi ke-48 ditambah dua batalyon dari Divisi ke-38 dalam menduduki Jawa. Semua bagian dari operasi Tentara ke-16 Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia, ±1942-1998  menyebut, dua batalyon dari Divisi 38 itu dipimpin oleh Kolonel Shoji Toshishige (1890-1974).

 

Pasukan Kolonel Shoji bergerak sangat cepat. Pada hari pertama pendaratan saja, 1 Maret 1942, pasukannya berhasil merebut Kota Subang dan Lapangan Udara Kalijati. Selain sebagai fasilitas penerbangan terbaik di Jawa kala itu, Kalijati amat dibutuhkan Jepang.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page