- 4 jam yang lalu
- 5 menit membaca
KOLONIALISME memang sudah jadi kata usang karena sudah terkikis sedikit demi sedikit pasca-Perang Dunia II. Namun, mental kolonial dan kolonialitas itu sendiri dari para mantan penjajah tak serta-merta hilang. Begitu kata sejarawan dan anggota DPR RI Bonnie Triyana mengutip sosiolog Peru Aníbal Quijano dalam esainya, “Coloniality of Power, Eurocentrism, and Latin America” di Jurnal Nepantla tahun 2000.
“Pertanyaannya, apakah dunia hari ini sudah berubah sejak berakhirnya Perang Dunia II? Kolonialisme mungkin sudah berakhir namun kolonialitas, seperti yang didefinisikan sosiolog Aníbal Quijano, terus eksis sampai hari ini. Dominasi imperialis terus berjalan dalam bentuk-bentuk baru melalui eksploitasi sumber daya alam, produksi pengetahuan yang Eurosentris, dan dikotomi-dikotomi Barat-Timur dan sekarang Utara-Selatan,” kata Bonnie dalam pengantar public lecture sejarawan India Vijay Prashad bertajuk “The Global South Today: Crisis, Resistance and New Possibilities” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Senin (20/4/2026) petang dan juga disiarkan secara daring melalui Youtube Historia.ID.
Meski perang besar itu sudah lama berakhir dan ada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai “penjaga perdamaian”, ironisnya perjuangan untuk perdamaian masih jauh kata usai. Krisis dan konflik terus mendera dan hukum internasional kini sedang diterpa masalah besar oleh ulah Amerika Serikat (AS) dan Israel.
AS menculik presiden Venezuela Januari 2026 lalu. Juga memblokade Kuba secara ekonomi. Sedangkan Israel terus menyerang negeri-negeri tetangganya. Selain melalukan genosida di Palestina (Jalur Gaza dan Tepi Barat), negeri zionis itu seenak perutnya membombardir Suriah, Lebanon, Yaman, dan Iran. Negara terakhir juga diserang AS-Israel secara ilegal sejak 28 Februari 2026. Belum lagi krisis-krisis lain seperti perang saudara di Sudan yang diyakini ada Uni keterlibatan Emirat Arab.
“Dari banyak krisis sebenarnya kita bisa langsung memahaminya. Ketimbang bingung, ada baiknya kita bangun kepercayaan diri kita. Karena kita sudah tahu apa yang terjadi. Kita tahu AS dan Israel ada di balik genosida di Gaza. Namun kita tidak punya kepercayaan diri untuk mengatakan: hentikan itu!” cetus Vijay Prashad.
Apa yang dilakukan Presiden Donald Trump dengan bikin kacau Venezuela, mengembargo Kuba, mengirimkan banyak senjata kepada Israel hingga menyerang Iran adalah tindakan mempertahankan mentalitas kolonial dan imperialis agar negara-negara dunia ketiga atau negara-negara selatan tetap “tercengkeram”. Bersama rekan-rekannya di Institut Riset Sosial Tricontinental, Prashad menganalisanya lewat riset bertajuk “Hyper-Imperialism: A Dangerous Decadent New Stage”. Mereka melacak kegelisahan negara-negara Barat terhadap negara-negara dunia ketiga sejak krisis keuangan 2007-2008.
“AS dan sekutunya di NATO sangat khawatir dengan melejitnya ekonomi Asia. Jadi negara-negara Asia mulai menjadi pusat politik dunia yang paling dinamis dan China berada di pusatnya. Banyak negara kemudian mulai bekerjasama dengan China dan faktanya dunia mulai berubah. Mereka enggan ikut IMF, ingin model ekonomi sendiri. Kami menyebutnya, ‘mood baru dalam kawasan Global Selatan’,” terang penulis buku The Darker Natoins: A People’s History of the Third World (2007) , Letters to Palestine (2015), dan Red Star Over the Third World (2019) itu.
AS amat khawatir pada China. Upaya untuk menjegalnya pun terus diupayakan.
“AS dan NATO takut kebangkitan China dan. AS pun bikin pangkalan-pangkalan militer lebih banyak namun China tak terintimidasi. AS bikin kebijakan tarif baru untuk menghukum negara-negara yang tak ikut dengan Barat. Seperti tukang peras, Trump datang ke Malaysia, Korea Selatan, Indonesia, minta ruang udara dibuka atau akan menghadapi akibatnya. Di satu pihak, perang AS melawan Iran adalah perang melawan ketidakpatuhan. Kuba tidak patuh, Venezuela tidak patuh, Iran tidak patuh dan membayar harganya. Sementara India, Indonesia, Korea Selatan, takut untuk tidak patuh.”
Berbeda tapi Bersatu di Kawasan Selatan
Apa yang terjadi hari ini tak ubahnya seperti dekade-dekade sebelumnya. AS dan sekutunya di masa lalu berusaha datang dengan mempromosikan demokrasi meski ironisnya jika ada pemerintahan demokratis yang tak sejalan dengan AS, pemerintahannya bakal digoyang sampai jatuh dengan kekuatan militer.
Prashad sedikit mengutip tentang analisa kekuatan militer di balik soft power AS di banyak negara-negara dunia ketiga yang diungkapkan Thomas Loren Friedman, pengamat politik dan kolumnis harian The New York Times, dalam bukunya The Lexus and the Olive Tree: Understanding Globalization (1999). “Tangan-tangan” dalam pasar dan perdagangan serta promosi-promosi demokrasi bisa berjalan dengan adanya tangan besi tersembunyi berupa kekuatan militer di baliknya.
“Saat itu Thomas Friedman menulis bahwa: di balik sarung tangan beludru demokrasi terdapat tangan besi militer. Mereka datang mengajarkan demokrasi melalui USAID, Ford Foundation, LSM-LSM. Jangan lupa juga mereka terus menjual alutsista kepada kita dan menawarkan melatih para jenderal kita untuk lebih loyal kepada militer AS ketimbang para petani di Indonesia. Sangat kontradiktif. Kini tangan besi tak sepenuhnya hilang, justru seperti ‘diperhalus’ karena mereka mulai putus asa. Donald Trump putus asa untuk membuat AS masih relevan. Masalahnya AS bukan lagi kekuatan yang relevan di dunia. Memang mereka sangat hebat dalam militer dan media namun AS mulai ketinggalan teknologi-teknologi baru dari China, India, Jepang. Mereka juga tak lagi mengendalikan keuangan. Lihat apa yang dilakukan Iran. Iran bilang hanya mereka yang berdagang minyak dengan Yuan boleh berangkat dari Selat Hormuz. Itu tantangan langsung dan ancaman bagi petro dollar,” ujar Prashad.
Belakangan, AS bahkan mulai mengancam akan memburu kapal-kapal tanker Iran yang ada di kawasan Asia Tenggara. Menurut Prashad, boleh saja AS makin agresif namun baiknya tak menafsirkan agresivitas AS sebagai kekuatan karena Iran telah membuktikan mampu berdiri tegak menghadapi AS.
“Jadi AS kesulitan untuk terus relevan dan kita butuh strategi untuk menghadapinya. Strategi butuh kepercayaan diri. Demi mendapatkan kepercayaan diri, kita harus tahu sejarah kita sendiri. Anda harus tahu betapa pentingnya Indonesia ketika jadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1955. Itu momen penting. Kita harus kembali ke momen itu agar bisa menghadapi situasi sekarang,” lanjutnya.
Harus diakui, dunia kini punya pandangan berbeda-beda dalam politik internasional. Prashad mengingatkan ketika para pemimpin Asia dan Afrika datang ke Bandung pada 1955 pun mereka berasal dari latar belakang politik berbeda.
“Ada Sir John Kotelawala, seorang yang (politik) kanan dari Sri Lanka. Carlos Romulo dari Filipina (pro AS) dan Chou En-lai dari China yang komunis. Gamal Abdel Nasser yang perwira militer. Jadi banyak pandangan politik berbeda. Namun ketika mereka datang ke Bandung, mereka berdebat tentang banyak hal namun bersatu dalam kesepakatan akan prinsip dasar kedaulatan, yang artinya tidak boleh ada pengaruh kolonial. Inggris, Prancis, Portugal, out! Dan kita tidak menginginkan Amerika. Hal terakhir ini cukup jadi kontroversi karena Iran dan Filipina saat itu tergabung ke dalam blok-blok kerjasama militer dengan AS. Tetapi pada umumnya mereka sepakat tentang prinsip kedaulatan,” Prashad mengingatkan.
Perbedaan tak seharusnya membuka permusuhan. Tantangannya justru adalah mencari titik temu dari perbedaan-perbedaan itu.
“Mereka saling respek meskipun ada ketidaksepakatan. Tetap dengarkan dan jangan kucilkan. Saya hari ini menghormati rakyat dan pemerintah Iran berdiri tegak melawan agresi (AS) ini. Saya tak perlu sepakat dengan semua keputusan pemerintah (Iran) namun saya respek sepenuh hati dengan keyakinan mereka. Sebanyak 168 siswi Iran tewas oleh (serangan) AS dan Israel. Jangan Anda katakan Anda ingin melindungi hak-hak perempuan ketika Anda membunuh anak-anak. Tidak masuk akal.”
Tak dipungkiri, berdekade-dekade pasca-KAA pun masih banyak sengketa hingga perseteruan di antara negara-negara Selatan itu sendiri, terutama di Asia. Entah konflik perbatasan China-India pada 1962, perang perbatasan India-Pakistan sejak 1947 hingga sekarang, sengketa-sengketa perbatasan Indonesia-Malaysia, atau sengketa perbatasan China-Filipina di Laut China Selatan. Alhasil sengketa-sengketa itu menciptakan keretakan-keretakan tersendiri. Prashad menganalogikan semut-semut masuk dan menyerbu tidak dari pintu depan melainkan dari celah-celah keretakan itu dan itu dimanfaatkan AS dan sekutu-sekutu Baratnya.
“Kita memang punya kelemahan internal kita sendiri. Masih saling bergelut satu sama lain. Kita harus memperkuat persatuan kita. Anda ingin membangun Asia yang baru, saya pun ingin membangun Asia yang baru. Saya ingin Asia yang berjaya dengan masyarakatnya saling percaya,” tandasnya.


















Komentar