top of page

Memantik Global Selatan Melawan Kolonialitas

Donald Trump putus asa Amerika Serikat sudah tak lagi relevan, kata sejarawan Vijay Prashad. Momentum untuk berdiri tegak membawa semangat KAA.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Vijay Prashad (kiri) dalam public lecture-nya bertajuk “The Global South Today: Crisis, Resistance and New Possibilities” (Historia.ID)

21 Apr
5 menit membaca

Diperbarui: 8 Mei

KOLONIALISME memang sudah jadi kata usang karena sudah terkikis sedikit demi sedikit pasca-Perang Dunia II. Namun, mental kolonial dan kolonialitas itu sendiri dari para mantan penjajah tak serta-merta hilang. Begitu kata sejarawan dan anggota DPR RI Bonnie Triyana mengutip sosiolog Peru Aníbal Quijano dalam esainya, “Coloniality of Power, Eurocentrism, and Latin America” di Jurnal Nepantla tahun 2000.


“Pertanyaannya, apakah dunia hari ini sudah berubah sejak berakhirnya Perang Dunia II? Kolonialisme mungkin sudah berakhir namun kolonialitas, seperti yang didefinisikan sosiolog Aníbal Quijano, terus eksis sampai hari ini. Dominasi imperialis terus berjalan dalam bentuk-bentuk baru melalui eksploitasi sumber daya alam, produksi pengetahuan yang Eurosentris, dan dikotomi-dikotomi Barat-Timur dan sekarang Utara-Selatan,” kata Bonnie dalam pengantar public lecture sejarawan India Vijay Prashad bertajuk “The Global South Today: Crisis, Resistance and New Possibilities” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Senin (20/4/2026) petang dan juga disiarkan secara daring melalui Youtube Historia.ID.


Meski perang besar itu sudah lama berakhir dan ada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai “penjaga perdamaian”, ironisnya perjuangan untuk perdamaian masih jauh kata usai. Krisis dan konflik terus mendera dan hukum internasional kini sedang diterpa masalah besar oleh ulah Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page