- 29 Jan
- 3 menit membaca
PERANG antara Kerajaan Gowa bersama kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan lain terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda membuat aparat kolonial bereaksi cepat dengan mengirim pasukan Marsose pimpinan Letnan Hans Christoffel. Pasukan itu bertugas memburu raja-raja yang dianggap pemberontak itu.
Upaya tersebut tidak bertepuk sebelah tangan. Pada 21 Desember 1906, pasukan Marsose telah berhasil menyergap rombongan I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang alias Sultan Husein yang bertakhta di Gowa di Sidenreng. Raja Gowa itu pun terpisah dari anak dan adiknya. Adik Sultan Husein I, Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo, juga dibuat terluka.
“Karaeng Bontonompo luka ditembus peluru Belanda, akhirnya ditangkap dan ditawan,” catat Manai Sophian dalam Perang Gowa Terakhir. Selain adik sultan yang mendapat luka di bahu, anak Sultan Husein yang bernama Andi Mappanyuki juga terpaksa menyerah di Parepare.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















