top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Setelah Gowa Dihidupkan, Musuh Dijadikan Raja

Kendati pernah melawan Belanda, saudara raja Gowa ini akhirnya dijadikan raja oleh Belanda.

29 Jan 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Sultan Hasanuddin, raja terbesar Kesultanan Gowa, gigih melawan Belanda hingga diteruskan keturunan-keturunannya. (Majalah Mimbar No. 14, Tahun II, April 1972)

PERANG antara Kerajaan Gowa bersama kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan lain terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda membuat aparat kolonial bereaksi cepat dengan mengirim pasukan Marsose pimpinan Letnan Hans Christoffel. Pasukan itu bertugas memburu raja-raja yang dianggap pemberontak itu.

 

Upaya tersebut tidak bertepuk sebelah tangan. Pada 21 Desember 1906, pasukan Marsose telah berhasil menyergap rombongan I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang alias Sultan Husein yang bertakhta di Gowa di Sidenreng. Raja Gowa itu pun terpisah dari anak dan adiknya. Adik Sultan Husein I, Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo, juga dibuat terluka.

 

“Karaeng Bontonompo luka ditembus peluru Belanda, akhirnya ditangkap dan ditawan,” catat Manai Sophian dalam Perang Gowa Terakhir.

 

Selain adik sultan yang mendapat luka, di bahu, anak Sultan Husein yang bernama Andi Mappanyuki juga terpaksa menyerah di Parepare.



Buntut dari semua itu, Kesultanan Gowa dibekukan setelah Sultan Husein terbunuh pasukan Marsose. Pusaka kerajaan juga disita selama beberapa tahun sebelum dikembalikan lagi ke pihak kesultanan.

 

Anak dan adik Sultan Husein itu kemudian dibuang. Het Vaderland tanggal 30 November 1909 menyebut, Karaeng Bontonompo dibuang ke Bima, Nusa Tenggara Barat. Bersama Andi Mappanyuki keponakannya, menurut Soerabaijasch Handelsblad tanggal 10 April 1931, Karaeng Bontonompo pernah pula dibuang ke Selayar. Namun Karaeng Bontonompo dikembalikan ke Makassar setelah masa-masa pembuangannya itu.

 

Di masa pembekuan Kesultanan Gowa itu, para Karaeng yang dulu bawahan sultan Gowa tetap menjadi pemuka di daerah-daerah masing-masing. Mereka tetap dihormati rakyat masing-masing.

 

Sementara, upaya perlawanan terhadap Belanda tak pernah mati meski mereka dikalahkan pada 1905. Masih banyak bangsawan yang berusaha melawan Belanda. Di antaranya dengan bersekutu dengan bandit bernama Tolo’ Daeng Mangasing dan kelompoknya.

 

Tolo dulunya juga prajurit Kesultanan Gowa dalam perang melawan Belanda. Setelah Gowa dibekukan, dia bergerak independen. Pada 1915, Tolo mengadakan perlawanan lagi.

 

Di Sungguminasa, Belanda menempatkan pasukan keamanan seperti polisi bersenjata –yang terdiri mantan tentara– setelah 1905 di bawah Sersan Johan Rembet. pasukan polisi bersenjata Sersan Johan Rambet itulah kemudian kelompok Tolo’ diburu dan disergap. Tolo’ terbunuh tapi jadi legenda rakyat di Makassar. Salah satu keturunan pengikut Tolo’ dari garis ibu, Ihsan Harahap, sekitar 1915 menyebut: Tolo’ menjadi kata ganti untuk jago.



Setelah lebih dari 20 tahun, pemerintah kolonial menghidupkan lagi beberapa kerajaan yang pada 1905 melawannya. Tentu saja dengan menandatangani Korte Verklaring yang amat menguntungkan Belanda.


Pada 1931, giliran Bone –yang setelah 1905 juga dihukum– dihidupkan kembali. Putra Sultan Husein dan keponakan Karaeng Bontonompo, yakni Andi Mappanyuki, dijadikan rajanya. Ibu dari Andi Mappanyuki adalah putri Raja Gowa La Parenrengi Sultan Ahmad.

 

Lima tahun kemudian, barulah Kesultanan Gowa yang berpusat di Sungguminasa dipulihkan. Karaeng Mandale, Karaeng Bontonompo, dan Arung Batu menjadi calon raja Gowa. Dari  ketiganya, kemudian Karaeng Bontonompo yang ditunjuk.

 

Karaeng Bontonompo dinobatkan sebagai raja Gowa dengan gelar Sultan Muhammad Tahir –sehingga nama lengkapnya menjadi I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir– pada 1 Januari 1937. Banyak pejabat Belanda, macam  HJ Koerts, mengetahui siapa dia. Diakuinya dalam Kenang-kenangan Pangrehpraja Belanda 1920-1942, dirinya tahu bahwa Karaeng Bontonompo adalah saudara raja Gowa yang pernah melawan Belanda dan raja baru ini dulu terluka tembak. Untuk itu, Koerts pernah bertanya pada sang raja ketika dia baru dilantik, apakah dia dendam karena dulu ditembak.

 

“Walaupun ada ini, selamanya saya setia kepada Kompeni,” kata Karaeng Bontonompo sang raja Gowa baru itu kepada Koerts sambil mengangkat baju untuk memperlihatkan luka di bahunya.

 

Beberapa tahun setelah Karaeng Bontonompo naik takhta, tentara Jepang menyerbu Hindia Belanda. Nusantara pun menjadi bagian dari pendudukan tentara Jepang. Sang sultan tak bisa berbuat banyak dalam mengatur kerajaannya meski kondisi perekonomian amat buruk era Jepang ikut dirasakan Gowa. Dirinya berkuasa hingga 1947, ketika pemerintah Belanda sudah kembali ke Sulawesi Selatan.*


 

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Riwayat Konglomerat Dasaad

Riwayat Konglomerat Dasaad

Jaringan bisnis Dasaad membentang di dalam dan luar negeri. Ia tercatat sebagai pengusaha Indonesia pertama yang membuka kantor cabang di Amerika Serikat.
Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot tak sekadar ikon perfilman yang dijuluki “Marylin Monroe-nya Prancis”. Ia juga “lokomotif sejarah perempuan”.
bottom of page