- 1 jam yang lalu
- 9 menit membaca
SEBAGAI stasiun televisi swasta penyedia tayangan telenovela, SCTV kerap diplesetkan menjadi “Saluran Cerita TelenoVela”. Sepanjang dekade 1990-an, sejumlah serial telenovela unggulan ditayangkan SCTV dan memperoleh rating tinggi. Sebut saja Kassandra (1992), Maria Mercedes (1993), Morena Clara (1994), Maria de lal Bario (1995), hingga Esmeralda (1997).
Pada 2000, SCTV untuk kali kedua menayangkan Esmeralda. Penayangan ulang serial telenovela asal Meksiko (Televisa) ini karena minat penonton yang tinggi. Esmeralda (diperankan Leticia Calderon) berkisah tentang gadis buta yang tertukar sejak bayi, cintanya terhalang status sosial, serta perjuangannya mendapatkan penglihatan dan pengakuan cinta.
Penayangan perdana Esmeralda menggunakan sulih suara berbahasa Inggris. Sementara penayangan ulang menggunakan bahasa Indonesia. Namun, penayangan kedua tak berjalan mulus lantaran menuai protes. “Tayangan telenovela Esmeralda dihentikan karena adanya protes dari Front Pembela Islam (FPI),” lansir Bali Post, 1 Juli 2000.
Pada 3 Mei 2000, kantor SCTV di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, digeruduk oleh sekira 50 orang anggota FPI. Mereka keberatan dengan serial Esmeralda karena menghadirkan peran antagonis bernama Fatima (Laura Zapata) yang berkarakter culas dan cerewet. Penamaan karakter tersebut dianggap melecehkan umat Islam sebab Fatima merupakan nama putri Nabi Muhammad.
Pihak SCTV sempat menawarkan nama Fatima diganti Latina dan memotong sebagian episode yang menampilkan adegan dialog Fatima. Namun, FPI menutup ruang negosiasi. Menurut FPI, para siswa yang belajar di Sekolah Pendidikan Al-Qur'an “Fatima” jadi salah tafsir memahami sosok Fatima setelah menyaksikan serial Esmeralda. Sekolah ini berada di bawah payung FPI. Itulah alasan FPI bersikeras agar Esmeralda tidak ditayangkan lagi. Jika tuntutannya tidak dipenuhi, FPI akan mengerahkan massa lebih banyak lagi. Diancam begitu, SCTV tak bisa berkutik lagi.
“Kami menghentikan penayangan Esmeralda sejak 8 Mei 2000,” aku Budi Darmawan, manajer Humas SCTV, dikutip Tempo, 9 Juli 2000.
Kasus “Fatima” menjadi salah satu kontroversi tayangan telenovela. Sebagai pengganti Esmeralda, SCTV menayangkan Julietta yang juga diperankan Leticia Calderon, namun tak mampu mengulangi kesuksesan sebelumnya. Di stasiun televisi yang lain pun kurang lebih sama. Memasuki era 2000-an, telenovela mulai meredup. Tayangan opera sabun dari Amerika Latin ini merosot drastis dari layar kaca meninggalkan masa jayanya dekade silam.

Pro dan Kontra
Meski disukai dan dinantikan para penggemarnya, tayangan telenovela juga ditentang sejumlah pihak. Pandangan anti-telenovela sudah menyeruak ketika tayangannya mulai menggeliat di televisi pada paruh kedua 1990-an. Pada saat itu, telenovela tayang setiap hari dan hampir di semua stasiun televisi nasional.
Dampak sosial atas tayangan telenovela begitu terasa di tengah masyarakat. Demam telenovela menyebabkan orang mengubah perilaku maupun jam aktivitas. Terutama bagi kaum ibu-ibu, sebagian waktunya tersita demi meluangkan waktu menonton telenovela.
“Kalau belanja ke pasar saya harus pagi-pagi, sehingga pukul 11.00 kita mau nonton Maria Mercedes,” kata Ny. Yani yang tinggal di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, dikutip Berita Yudha, 28 Mei 1995. Kalaupun kesibukan di dapur belum selesai, ia akan memindahkan televisi ke dapur agar bisa tetap menonton telenovela sambil memasak.
Tidak hanya nyonya rumah, pembantu rumah tangga pun tak mau ketinggalan. Mereka yang gandrung telenovela seakan diburu-buru untuk menyelesaikan pekerjaannya agar bisa mengikuti cerita Si Cantik Clara (Morena Clara). Ini masih gejala sosial dalam kadar ringan.
Tayangan telenovela juga menyebabkan persoalan gegar budaya. Datang dari negara-negara Amerika Selatan, jalan cerita maupun visualisasi telenovela tentu berbeda dengan kultur Indonesia. Penonton menikmati serial telenovela lewat sulih suara dari bahasa Spanyol ke bahasa Indonesia. Tak hanya dialog, lagu soundtrack juga ikut disulihsuarakan sehingga terdengar lebih familiar di telinga orang Indonesia. Praktik sulih suara atau dubbing ini sempat menuai kontroversi dalam dunia sinema Indonesia. Penggunaan bahasanya acap kali kurang tepat dan bertentangan dengan budaya kita hingga mematikan produk sinema lokal.
Jika ditanyakan kepada para ibu dan pembantu rumah tangga, mereka dengan fasih bercerita tentang jalannya cerita telenovela favorit. Bagaimana perselingkuhan terjadi antara seorang majikan yang sudah berkeluarga dengan pembantu rumah tangganya. Bagaimana seorang pembantu rumah tangga bisa menjadi majikan dan membalikkan posisi majikannya menjadi pembantu rumah tangga. Semua itu diceritakan dalam serial telenovela yang semakin banyak di-dubbing ke dalam bahasa Indonesia.
“Terlepas dari bahasa Indonesia yang sering kali kurang baik, maknanya terkadang bertentangan dengan bahasa tubuh orang yang berbicara, serta dialeknya tidak jelas, dubbing telah membuat program TV produksi luar negeri seolah produksi negeri sendiri,” ulas Kompas, 16 November 1995.
Penggunaan bahasa yang terdengar janggal dalam alih suara telenovela ke bahasa Indonesia dikhawatirkan mempengaruhi norma kesopanan, khususnya bagi generasi muda. Dalam dialog telenovela, sering terdengar seorang anak menyebut orang tuanya dengan kata “kamu”, bukannya ayah atau ibu. Bagi orang Indonesia, menyebut orang tua dengan sebutan “kamu” dianggap kurang ajar dan tak pantas.
Selain itu, adegan romantis percumbuan dalam telenovela terbilang lumrah di Amerika Latin sementara di Indonesia dianggap mesum. Busana terbuka, sentuhan fisik, ciuman bibir, hingga adegan ranjang dengan mudah dijumpai dalam berbagai telenovela genre klasik. Perbedaan nilai kultur dan norma inilah yang menjadi persoalan krusial atas tayangan telenovela di Indonesia. Jalan cerita telenovela yang membuai juga dinilai tidak layak bagi konsumsi anak-anak.
“Saya hidup ketika telenovela zaman Marimar lagi gesit-gesitnya. Umur saya 13 tahun dan masih remaja saat itu. Yang saya ingat Marimar, soalnya untuk ukuran 90-an itu gaya berbusananya khas (terbuka), jauh banget dengan di Indonesia,” kata Arie Suryanto (39), yang berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara, kepada Historia.ID.
Sutradara dan pemilik rumah produksi Sys Ns, termasuk tokoh sinema yang mengkritik habis-habisan kehadiran telenovela. Menurut Sys, apa yang dikisahkan dalam telenovela lebih banyak menonjolkan kebobrokan moral, seperti kawin-cerai berkali-kali di kalangan keluarga, hubungan seks di luar nikah, dan pamer kekayaan. Ia berharap agar pengelola stasiun televisi mengurangi frekuensi penayangan telenovela hingga suatu saat menghentikannya.
“Lambat laun sikap yang dikisahkan dalam film [telenovela] itu bisa merasuk ke dalam perilaku masyarakat Indonesia, khususnya yang selalu menyaksikannya,” kata Sys seperti dilansir Berita Yudha, 6 Mei 1995.
Perkara moral lagi-lagi menjadi sorotan kaum konservatif. Para pendeta Kristen pada umumnya memandang prihatin atas kegandrungan jemaatnya terhadap telenovela. Mereka beranggapan telenovela tidak mendidik, baik secara moral maupun iman. Selain itu, menonton telenovela dicap sebagai kegiatan yang menghamburkan waktu sia-sia.
Telenovela menjadi kambing hitam atas banyaknya istri yang melalaikan kewajiban melayani suami, lupa waktu beribadah keluarga, hingga membuat orang malas bekerja. Seorang pendeta menyebutnya “Panca Krisis”, yaitu krisis iman, krisis identitas, krisis keluarga, krisis kasih, dan krisis ekonomi.
“Cerita-cerita telenovela ini pada umumnya tidak pernah membahas masalah cinta kasih, melainkan kawin dan cerai yang tidak tahu ujung pangkal rumah tangga tersebut. [...] Telenovela salah satunya sajian paket dari si iblis yang akan merusak moral keluarga besar bangsa Indonesia,” tulis Pdt. Ronald Hasiholan Naiborhu dalam kolom opini Analisa, 6 Januari 1998.
Mitigasi vs Resistensi
Pada 1994, Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Semarang melayangkan imbauan kepada stasiun televisi swasta untuk mengurangi frekuensi penayangan serial telenovela. Imbauan ini berasal dari laporan masyarakat maupun lewat jajak pendapat. Menurut Ketua LP2K Semarang, Novel Ali, pihaknya menerima pengaduan ada guru SMP dan SMA yang meninggalkan kelas mengajar demi menonton telenovela. Selain itu, tayangan telenovela menyebabkan sinema produksi Indonesia kalah bersaing dan tidak laku.
“Dengan kata lain, frekuensi dan pemutaran film Amerika Latin mengakibatkan sinetron dan film teatrikal karya bangsa Indonesia tidak bisa menjadi tuan di rumah sendiri, sementara film seri Amerika Latin telah menjadi tuan di Indonesia,” ungkap Novel Ali diberitakan Kompas, 22 November 1994.
Namun, penelitian LP2K tentang dampak negatif telenovela menimbulkan protes dari kalangan ibu-ibu di Semarang dan sekitarnya. LP2K dinilai mengusik kesenangan kaum ibu penggemar berat telenovela. Sebaliknya, pakar komunikasi, wakil rakyat, dan sebagian ibu lainnya mendukung sikap LP2K agar tayangan telenovela dikurangi. Anggota DPR Komisi IX meminta Lembaga Sensor Film untuk mengoreksi kinerjanya terkait maraknya telenovela yang lolos tayang di televisi.
Di ranah industri perfilman, sinema karya sineas Indonesia benar-benar kena gempur telenovela. Dibandingkan telenovela, sinetron Indonesia kurang diminati. Dari sekian banyak sinetron, hanya drama keluarga Betawi Si Doel Anak Sekolahan yang mampu bersaing bahkan mengungguli rating telenovela. Itu pun terbatas di Jakarta.
“Ternyata Si Doel bisa mengalahkan telenovela yang tengah merajalela di berbagai siaran TV swasta,” beber Kompas, 2 April 1995. “Telenovela tampaknya belum mampu merebut hati pemirsa Jakarta. Terbukti hanya Kassandra (peringkat ke-5) dan Maria Mercedes (ke-10) yang masuk sepuluh besar.”

Meski keluhan bermunculan, kritik terhadap telenovela tak mematikan penggemarnya dari layar kaca. Ketika SCTV mengubah jam tayang telenovela dari pukul 16.30 sore ke pukul 08.30 pagi, dan mengubah waktu tayangnya dari setiap hari menjadi sekali sepekan, sontak menuai protes dari ibu-ibu. Mereka meminta SCTV tetap menayangkan telenovela di waktu luang, yaitu sore hari setiap hari.
“Padahal pagi hari para ibu umumnya sibuk. Kami juga alami sering terputusnya alur cerita dengan tenggang waktu yang seminggu sekali. Kami yang sudah terlanjur mengikuti jalan cerita, akhirnya tersendat. Pada pertemuan arisan maupun dalam perkumpulan ibu-ibu Dharma Wanita, masalah ini kami perbincangkan dan semua merasa kecewa terhadap SCTV yang kurang memahami kesenangan para ibu rumah tangga. Kini kami tinggal menunggu pedulinya SCTV,” kata Ny. Zaitun, warga Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dalam surat pembaca Kompas, 24 Juni 1997.
Pihak stasiun televisi tampaknya jalan terus menayangkan telenovela. Dalihnya telenovela ditayangkan masih dalam porsi frekuensi yang wajar. Lagi pula penggemar telenovela cukup banyak. Apalagi kalau bicara keuntungan.
“Harganya murah sementara ratingnya bisa menyamai film Hollywood. Telenovela termasuk sumber pemasukan yang potensial karena slot iklannya sekitar 12 menit paling sedikit pasti terisi 75 persennya,” ucap Budi Darmawan dalam Kompas, 11 Februari 2000.

Telenovela dipuja dan dibenci. Biar bagaimanapun, telenovela mendapat tempat di Indonesia dengan segala kontroversinya. Ia lebih dari sekadar tontonan hiburan. Pihak rumah produksi telenevola di negeri asalnya tak menutup telinga atas suara-suara yang mempersoalkan telenovela.
Hector Cardenas Saavedra dari Televisa, yang juga manajer bintang telenovela Gabriela Spanic, tak keberatan dengan penilaian orang yang melabeli telenovela sebagai tontonan sampah. Ia juga tak menampik bahwa cerita telenovela hanya menjual mimpi belaka. Walaupun pada kenyataannya, lebih banyak orang yang merindukan telenovela daripada membencinya.
“Telenovela adalah hiburan yang bisa ditonton dengan gratis. Ketika seseorang dalam kehidupan sehari-hari sudah sulit, ia akan malas menonton kepahitan di televisi, telenovela memenuhi keinginan yang lain, entah itu mau dikatakan mimpi atau angan-angan,” kata Hector saat mendampingi kunjungan Gabriela Spanic di Yogyakarta, dikutip Kompas, 9 April 2000.
Sayonara Telenovela
Memasuki era 2000-an, telenovela mulai menuju antiklimaks dari masa kejayaannya. Kurang bisa dipastikan apakah surutnya telenovela dari layar kaca karena kritik dan protes sejumlah pihak. Namun, yang jelas penonton mulai jenuh dengan jalan cerita yang itu-itu saja. Kendati beberapa telenovela menawarkan genre alternatif untuk anak-anak dan remaja, tak dapat dimungkiri kebosanan mulai melanda penonton loyal telenovela.
“Jalan cerita telenovela yang terkesan lambat jadi handicap (rintangan), karena masyarakat terutama gen-Z agak malas jika nonton dalam ratusan episode,” ujar Arie Suryanto.
Menurut Lamria Samosir, penggemar fanatik dan pemerhati telenovela, telenovela terbaru sudah berhenti tayang di Indonesia sejak tahun 2005. Kendati demikian, masih ada satu atau dua telenovela lama yang diputar ulang hingga 2016. Kurangnya promosi dari rumah produksi Amerika Latin menyebabkan telenovela tak lagi digandrungi penonton Indonesia. Generasi Y atau Milenial adalah genarasi terakhir yang menikmati era telenovela. Sementara Generasi Z (yang lahir antara tahun 1997–2012) kurang mengenal telenovela karena selera tontonannya telah berganti.
“Gen Z enggak kenal apa itu telenovela. Tahun 2006, mulai banyak film Korea dan boyband-girlband Korea. Gue sendiri berhenti nonton telenovela sejak 2016. Nonton di Youtube enggak enak soalnya kepotong-potong durasinya,” terang Lala, panggilan akrabnya, kepada Historia.ID.
Setelah telenovela kehilangan pamornya, seperti kata Lala, penonton Indonesia beralih ke selera baru: drama Mandarin dan Korea. Tak lagi terdengar lagu intro entrenada bahasa Spanyol yang menjadi sondtrack telenovela. Begitu pula artis-artis Meksiko, Venezuela, dan Kolombia, yang tak lagi kelihatan di layar kaca. Masuklah eranya “Hau Siang Hau Siang”, soundtrack drama Mandarin Romance In The Rain (2001) dan kisah cinta Shancai-Dao Ming Si dalam Meteor Garden (2001). Sementara itu, drama Korea yang popular di Indonesia antara lain Endless Love (2002), Full House (2004), hingga Boys Before Flower (2009).
“Telenovela kalah sama Korea yang memang niat banget mempromosikan entertainment-nya secara global,” kata Ochi yang berprofesi sebagai jurnalis kepada Historia.ID.

Namun, sejatinya telenovela tak benar-benar hilang dari layar kaca Indonesia. Jalan ceritanya yang mengusung resep opera sabun “Cinderella Complex” banyak diadaptasi oleh sinetron maupun film televisi (FTV) produksi sineas Indonesia. Selain itu, kemajuan teknologi lewat aplikasi video streaming memudahkan pecinta telenovela untuk menonton kembali telenovela kesayangan atau sekadar nostalgia.
“Saya sempat tidak menonton telenovela ketika tidak lagi ditayangkan di televisi. Tapi, bersyukur sekarang di era internet, membantu nostalgia menontonnya. Dan juga kini telenovela ditayangkan lagi di salah satu stasiun TV swasta,” tutur Anditya Restu Aji kepada Historia.ID.
Salah satu stasiun televisi swasta yang baru muncul seperti MDTV bahkan menayangkan ulang serial telenovela yang pernah ngetop tempo dulu. Meski demikian, masa kejayaan telenovela pada periode 1990-an, jadi penanda zaman dalam industri sinema dan kultur pop di Indonesia. Ia juga menjadi memorabilia bagi generasi yang bertumbuh di zaman itu.*

























Komentar