- Petrik Matanasi
- 27 Nov 2025
- 2 menit membaca
Diperbarui: 20 Jan
SULTAN Hasanuddin, pahlawan nasional dari Kerajaan Gowa-Tallo, dikenal gigih melawan maskapai dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Namun karena kalah, dirinya terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya (1667).
Gowa bukan tak memiliki teman bangsa Eropa. Portugis, yang jauh sebelum VOC berkuasa sudah lama di Makassar, merupakan sekutunya. Kedekatan Portugis membuat ada raja Gowa yang membiarkan agamawan dari Portugis menyebarkan agama Katolik di Makassar. Sebuah sekolah Katolik kemudian didirikan di sana era tersebut. Christian Pelras dalam Manusia Bugis mencatat, ada raja Gowa yang pernah jadi kristen meskipun belakangan raja-raja di Sulawesi Selatan, baik kawasan Bugis maupun Makassar, memilih Islam.
Portugis di Makassar hanya fokus berdagang. Untuk itulah hubungan dengan raja-raja setempat seperti penguasa Tallo, Karaeng Pattinggaloang, dijalin Portugis.
Karaeng Pattinggaloang tidak tertarik dengan ilmu pengetahuan Barat kendati menyukai benda-benda terkait dengannya. Dia kolektor peta, globe, dan barang-barang lain terkait ilmu pengetahuan. Benda-benda itu diperolehnya dari para pedagang Eropa yang membawakan padanya. Selain itu, Karaeng Pattinggaloang juga paham bahasa-bahasa dari Eropa.
Sebelum ke Makassar, Portugis terlebih dahulu ke Malaka. Di sekitar Malaka, Portugis memperkuat diri. VOC adalah bahaya tersendiri bagi Portugis.
“Setahun setelah menguasai negara-kota Melayu, mereka menjalankan program pembangunan ghali mereka sendiri untuk penggunaan lokal,” tulis Pierre-Yves Manguin dalam “Lancaran, Ghurab and Ghali: Mediterranean Impact on War Vessels in Early Modern Southeast Asia”, termuat dalam buku Anthony Reid and the Study of the Southeast Asian Past.
Ghali, yang juga disebut galion, galleon, galley, gale atau gali, disebut William Henry Smyth dalam The Sailor's Word-book merupakan sebuah kapal rendah, berstruktur datar, dengan satu dek, dan digerakkan oleh layar dan dayung. Sebelum di Asia Tenggara, ghali berkembang di Laut Mediterania.
Tak hanya untuk dirinya, Portugis juga membuat armada ghali untuk sekutunya. Termasuk di Sulawesi Selatan.
“Salah satu bantuan yang paling penting, di samping kerjasama, bantuan senjata dan amunisi, adalah pembenahan armada laut Kerajaan dengan memberikan instruktur dalam membangun kapal perang tipe gallei,” catat Mukhlis Paeni dkk dalam Sejarah Kebudayaan Sulawesi.
Pada 1620-an, puluhan ghali dibuat Portugis untuk Kerajaan Gowa. Portugis melakukannya agar sekutunya bisa mengalahkan VOC yang juga menginginkan rempah-rempah dari Nusantara. Portugis dan Belanda saling bersaing sebagai “pemain” rempah-rempah di Maluku Utara. Masing-masing punya koneksi dengan raja-raja lokal.
Dengan sokongan persenjataan Portugis, senjata api dan kapal, Gowa tentu bertambah kuat di awal abad ke-17 itu. Bahkan kerajaan Bugis seperti Bone pun kemudian diserang dan dikuasainya. Politik pendudukan Gowa sebelum era Sultan Hasanuddin itu membuat Gowa punya beberapa musuh di kemudian hari. Yang termasyhur Arung Palaka dari Bone.
Setelah Bone dijajah Gowa, Arung Palaka berpihak kepada Belanda. Mendekatnya Arung Palaka tentu menambah kekuatan Belanda. Akhirnya, dengan bantuan Arung Palaka Belanda berhasil mengalahkan Gowa dan merebut bandar dagang Makassar yang ramai di zaman Gowa berkawan dengan Portugis itu.
Berkuasanya Belanda yang Protestan belakangan ikut mempengaruhi penyebaran Katolik di Sulawesi Selatan. Dalam beberapa kasus, Belanda menekan Katolik dan membiarkan Protestan atau Calvinis berkembang. VOC mewaspadai agama yang dianut orang Portugis hingga lebih suka orang pribumi memeluk agama yang dianut orang Belanda. Alhasil, Katolik kurang berkembang di sana. Sebaliknya, Protestan lebih bisa berkembang sebelum abad ke-19 itu dan penganutnya lebih banyak daripada agama yang dianut orang Portugis.*













Komentar