top of page

Sukarno, Hatta, Sjahrir dan Buku

Kisah tokoh Republik, Sukarno, Hatta, dan Sjahrir yang tak bisa hidup tanpa membaca.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sutan Sjahrir, Sukarno, dan Mohammad Hatta.

18 Mei 2018
3 menit membaca

Diperbarui: 29 Jul 2025

SETIAP 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Momen bersejarah itu bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional pada 17 Mei 1980. Namun, menilik minat baca masyarakat Indonesia hari ini, terbayang kenyataan memprihatinkan. Menurut data Most Littered Nation In the World yang dikeluarkan UNESCO tahun 2016, minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Ironisnya, Indonesia hari ini memiliki Perpustakaan Nasional Indonesia yang disebut-sebut sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia.


Membaca buku bukan lagi kegiatan pilihan seiring majunya teknologi informasi. Berbanding terbalik dengan generasi zaman pergerakan tempo dulu. Ibarat makanan, buku adalah kebutuhan. Lewat asupan literatur, pemikiran mereka menghasilkan ide untuk berjuang dan merdeka. Beberapa tokoh bahkan dikenal sebagai bibliofil alias pecinta buku.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page