top of page

Buku dan Perjalanan Intelektual Sukarno

Sukarno membaca buku sejak belia. Menemani petualangan intelektualnya hampir sepanjang hayat.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sukarno pada Pekan Buku Indonesia 1954. (Wikimedia Commons).

25 Nov 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 9 Okt

KENDATI sebagai anak bangsawan rendahan masih mendapatkan diskriminasi, Sukarno tetap beruntung karena sejak kecil berkesempatan mendapat pendidikan formal. Hal ini berperan penting dalam perkembangan intelektualnya. Dari sekolah pula Sukarno mulai mendapat akses terhadap buku.


Sosok Sukarno tentu tidak semata dibentuk oleh pendidikan dan buku. Pengalaman pribadi, pertemuan dengan berbagai ide, pengalaman organisasi, serta situasi politik lokal maupun global juga ikut membentuknya. Namun, buku menjadi teman baik dalam petualangan intelektualitasnya.


Menurut Rhoma Dwi Aria Yuliatri dalam pembukaan Pameran dan Dialog Sejarah “Bung Karno dan Buku-bukunya ” di Facebook dan Youtube Historia.ID, Selasa, 24 November 2020, di luar perpustakaan sekolah, Sukarno juga mendapat bacaan dari perpustakaan teosofi di mana ayahnya bergabung. Dengan meminjam kartu anggota ayahnya, ia bebas membaca buku apa saja.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
For Indonesia reconciliation is a necessity, yet it will not be easy to achieve.
For Indonesia reconciliation is a necessity, yet it will not be easy to achieve.
Kartini adalah sang pemula dari proses revolusi nasional.
Kartini adalah sang pemula dari proses revolusi nasional.
Selain menyajikan kemegahan peradaban masa lalu, film dokumenter ini juga berpesan tentang kerukunan umat beragama di Muarajambi.
Selain menyajikan kemegahan peradaban masa lalu, film dokumenter ini juga berpesan tentang kerukunan umat beragama di Muarajambi.
Inilah Piala Dunia, hajatan sepakbola sejagat yang selalu ditunggu. Di luar lapangan hijau ada drama-drama yang tak kalah menarik.
Inilah Piala Dunia, hajatan sepakbola sejagat yang selalu ditunggu. Di luar lapangan hijau ada drama-drama yang tak kalah menarik.
Sebuah ibukota di Skandinavia jadi jembatan politik Amerika-Rusia. Dipilih karena kenetralannya sejak Perang Dingin.
Sebuah ibukota di Skandinavia jadi jembatan politik Amerika-Rusia. Dipilih karena kenetralannya sejak Perang Dingin.
Murid memang tak melulu mesti seiring sejalan dengan guru. Sudah sejak lama orang-orang mengatakan, guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
Murid memang tak melulu mesti seiring sejalan dengan guru. Sudah sejak lama orang-orang mengatakan, guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
transparant.png
bottom of page