Diperbarui: 9 Okt
KENDATI sebagai anak bangsawan rendahan masih mendapatkan diskriminasi, Sukarno tetap beruntung karena sejak kecil berkesempatan mendapat pendidikan formal. Hal ini berperan penting dalam perkembangan intelektualnya. Dari sekolah pula Sukarno mulai mendapat akses terhadap buku.
Sosok Sukarno tentu tidak semata dibentuk oleh pendidikan dan buku. Pengalaman pribadi, pertemuan dengan berbagai ide, pengalaman organisasi, serta situasi politik lokal maupun global juga ikut membentuknya. Namun, buku menjadi teman baik dalam petualangan intelektualitasnya.
Menurut Rhoma Dwi Aria Yuliatri dalam pembukaan Pameran dan Dialog Sejarah “Bung Karno dan Buku-bukunya ” di Facebook dan Youtube Historia.ID, Selasa, 24 November 2020, di luar perpustakaan sekolah, Sukarno juga mendapat bacaan dari perpustakaan teosofi di mana ayahnya bergabung. Dengan meminjam kartu anggota ayahnya, ia bebas membaca buku apa saja.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















