top of page

Repotnya Membawa Buku Bung Hatta

Bongkar muat buku ke peti besi memakan waktu tiga hari. Hatta ikut membawa kecintaannya itu berpetualang sampai ke Boven Digul.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 19 Mei 2020
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 28 Jan

SELAMA sembilan bulan Mohammad Hatta meringkuk di Penjara Glodok. Dia menjadi pesakitan karena tulisan-tulisannya dalam majalah Daulat Ra’jat  yang menyulut propaganda Indonesia merdeka. Tidak cukup di Penjara Glodok, pemerintah Hindia Belanda kemudian berniat mengasingkan Hatta ke Boven Digul, Papua.


Hatta sendiri tidak peduli di manapun raganya berada. Yang bikin Hatta gundah adalah bagaimana cara membawa buku-bukunya ikut dalam pengasingan. Karena dengan buku, Hatta merasa bebas. Pikirannya bisa tetap sehat dengan melahap berbagai buku pengetahuan. Begitulah kiranya Hatta punya kecintaan terhadap literasi. Masalahnya, buku Hatta itu banyak sekali.


“Dalam peti buku yang berukuran ¼ meter kubik satu, jumlahnya 16 buah. Jadi semuanya 4 m3. Mengepak semua buku itu akan memakan waktu paling sedikit 3 hari,” ujar Hatta dalam Memoir.



Beruntunglah Hatta kerena pemerintah Hindia Belanda mengizinkan Hatta membawa buku-bukunya ke Digul. Syaratnya, dia hanya diberi waktu tiga hari berturut-turut pulang balik dari Penjara Glodok kerumahnya di Jalan Sawah Besar. Dengan bantuan kemenakan-kemenakannya, semua buku Hatta berhasil dikemas ke dalam 16 peti besi.


Pada 28 Januari 1935, Hatta tiba bersama tahanan politik PNI Baru lainnya di Tanah Merah, Boven Digul. Beberapa diantara mereka seperti Sutan Sharir dan Mohammad Bondan. Setelah disambut oleh panitia penerimaan, Hatta mulai teringat lagi dengan barang-barangnya. Dia hanya membawa pakaian dalam 1 kopor sementara buku sebanyak 16 peti besi. Dari kantor pemerintah ke kampung interniran jaraknya sekira 1,5 km. Hatta putar akal karena tidak mungkin menggotongnya sendirian.


Seorang anggota panitia penerimaan mengusulkan kepada Hatta agar memakai jasa orang Kaya-Kaya, suku lokal yang mendiami Boven Digul. Orang-orang Kaya yang terdidik memang kerap bekerja membantu kaum interniran. Hatta menerima tawaran tersebut.


“Kami berunding dengan seorang Kaya-Kaya yang kira-kira menjadi pemimpin mereka. Ia meminta sebagai ongkosnya satu uang kelip untuk tiap-tiap peti,” kenang Hatta. Uang kelip waktu itu nilainya 5 sen, bentuknya bundar dan berlobang ditengahnya.


Memasuki tengah hari, sampailah Hatta di rumah yang disiapkan untuknya. Tidak ketinggalan 16 peti buku yang diusung orang Kaya-Kaya. Berkat bantuan orang Kaya-Kaya itu, Hatta bebas mengisi hari-hari pengasingannya di Boven Digul dengan membaca buku.



Pada waktu pagi hingga menjelang siang, Hatta leluasa belajar di ruang bacanya. Setiap dua kali sepekan, Hatta memberi kursus kepada rekan-rekannya sesama tahanan Digul pelajaran ekonomi dan filsafat, Hatta juga dapat menambah penghasilannya dengan menulis karangan untuk surat kabar Pemandangan. Karangan itu dikirim secara berkala tiap bulan. Dalam melakoni pekerjaan intelektual tersebut, tentu saja buku-buku yang diboyong Hatta dari Jakarta itu amat besar perannya.  


Hingga pada Desember 1935, pemerintah memutuskan memindahkan Hatta ke Banda Neira, Kepulauan Maluku. Lagi-lagi orang Kaya-Kaya diperbantukan untuk menggotong buku-buku Hatta. Namun kali ini, mereka meminta bayaran sebesar 10 sen untuk tiap peti.


Di Banda Neira, Hatta juga tidak lepas mengisi waktu dengan buku-bukunya. Belajar dan mengajar tetap menjadi rutinitas. Sekali waktu, buku-buku Hatta kena tumpahan air dari vas bunga oleh anak-anak angkat Sutan Sjahrir dari keluarga Baadilah yang bermain-main. Sjahrir memarahi anak-anak angkatnya itu dan Hatta pun turut meluapkan kegusarannya. Hatta menghardik mereka bahwa buku-buku itu alat pengetahuan yang harus dijaga betul. Rupanya Sjarir jadi merasa ikut bersalah.



Pada akhir bulan sesudah kejadian itu, Sjahrir minta diri untuk pindah rumah. Sjahrir ingin menjaga ketenangan Hatta dari gangguan anak-anak angkatnya beserta saudara-saudara mereka yang nakal-nakal. “Ia kuatir nanti banyak buku-bukuku tersiram air, mungkin robek. Semacam itu jangan sampai terjadi,” demikian menurut Hatta.      


Masa pengasingan di Banda Neira berakhir pada 1 Februari 1942. Dengan kapal terbang laut Catalina, Hatta, Sutan Sjahrir dan tiga orang anak angkatnya diangkut ke Jawa. Tidak banyak yang bisa dibawa karena kapasitas muatan dalam pesawat terbatas. Hatta pun harus rela berpisah dari buku-buku yang sudah seperti anak-anaknya sendiri.


“Yang kusayangkan ialah bahwa buku-bukuku tidak dapat dibawa serta dan ditinggalkan di Neira. Hanya satu Atlas Bos yang dapat kupindahkan ke dalam kopor pakaianku yang terbuat dari kulit,” kenang Hatta.


Perpisahan Hatta dengan buku-bukunya rupanya hanya untuk sementara. Hatta barangkali ditakdirkan untuk selalu hidup bersama dengan buku-bukunya. Semua buku-buku yang tertinggal di Banda Neira akhirnya kembali ke sisi Hatta setelah dia menjadi wakil presiden Republik Indonesia. Buku-buku itu, kini masih tersimpan rapi di rumah peninggalan Bung Hatta di Jalan Diponegoro 57, Jakarta Pusat.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
transparant.png
bottom of page