top of page

Cerita Penderita Kusta Jadi Mata-mata di Perang Dunia II (Bagian I)

Joey membantu gerilyawan Filipina melawan Jepang dalam Perang Dunia II. Penyakit kusta membantu Joey menjalankan misi sebagai mata-mata.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Josefina "Joey" Guerrero (kedua dari kanan) menjadi mata-mata yang membantu gerilyawan Filipina dan pasukan AS melawan Jepang di masa Perang Dunia II. (Ben Montgomery, The Leper Spy: The Story of an Unlikely Hero of World War II).

31 Jan 2025
4 menit membaca

Diperbarui: 7 Mei

JOSEFINA “Joey” Guerrero berjalan terseok-seok di jalanan Manila ketika ibu kota Filipina itu diduduki Jepang pada 1940-an. Sebagai bagian dari gerakan bawah tanah menentang pendudukan Jepang, Joey mendapat tugas untuk mengumpulkan informasi tentang gerak-gerik prajurit dan fasilitas militer Jepang. Selain itu, ia juga berperan sebagai kurir yang menghubungkan informasi rahasia di antara gerilyawan.


Pasukan Dai Nippon terkenal keji dalam mengawasi masyarakat di wilayah koloninya. Mereka tak segan melakukan kekerasan kepada orang-orang yang dituduh mata-mata atau gerilyawan saat melakukan pemeriksaan dan interogasi. Akan tetapi, sikap prajurit Jepang berbeda kepada Joey karena kondisinya sebagai pengidap kusta.


Dalam artikel “Heroes: Joey” di majalah TIME, 19 Juli 1948, dilaporkan bahwa sebelum perang Joey adalah seorang primadona di masyarakat Manila. Ia muda, cantik, dan lincah. Suaminya seorang mahasiswa kedokteran kaya raya di Universitas Santo Tomas. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Wanita yang lahir di Quezon, Filipina, pada 1917 dengan nama Josefina Veluya itu mulai menderita kusta pada 1941.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page