RIBUAN orang memadati tepi landasan pacu Bandara Kemayoran, Jakarta pada 4 Desember 1956. Tokoh komunis Alimin dan D.N. Aidit, tokoh Partai Murba (Musyawarah Rakjat Banjak) Adam Malik, Chairul Saleh, dan Dr. Prijono berada di antara mereka. Mereka menanti kepulangan tokoh komunis tua, Semaoen –mungkin satu-satunya tokoh kiri yang kepulangannya disambut paling semarak.
Maka begitu pesawat mendarat, mereka langsung mengerumuni Semaoen setelah ia turun pesawat. Sudah 33 tahun lamanya Semaoen “terasing” di negeri orang. Butuh lebih dari setahun pula Partai Murba mengupayakan kepulangan anak didik Henk Sneevliet, pelopor komunisme di Indonesia, tersebut.
“Bekas pemimpin komunis Indonesia, Semaoen yang berusia 60 tahun, kembali ke negeri asalnya kemarin setelah 30 tahun menghabiskan pengasingan di Rusia. Semaoen sebelumnya diasingkan oleh bekas pemerintahan Hindia Belanda [pada 1923]. Semaoen disambut ribuan orang di bandara Jakarta, meninggalkan istri Rusianya, dua anak, dan dua cucu di Moskow. Seiring kepulangannya di Jakarta, ia menyatakan akan menahan diri dari aktivitas-aktivitas politik untuk sementara waktu,” tulis suratkabar Leeuwarder Courant edisi 5 Desember 1956, “Semaoen Terug in Indonesië”.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.











