MANTAN Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin jadi buronan setelah Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang dipimpinnya berujung pemberontakan. Sekondan Amir, Munawar Musso, telah lebih dulu dieksekusi mati dalam pengejaran di Ponorogo pada akhir Oktober 1948. Gerakan Amir-Musso ini lebih dikenal sebagai Peristiwa Pemberontakan PKI Madiun.
Di tengah pelariannya, Amir dan para pengikutnya semakin terdesak. Dari Madiun, rombongan Amir terus bergerak ke arah utara. Kondisi mereka memprihatinkan. Ada kalanya berhari-hari tidak makan, sementara harus turun-naik menyisir gunung dan bukit. Rombongan Amir akhirnya tertangkap di Desa Klambu, Purwodadi, Jawa Tengah pada 18 November 1948.
Amir kemudian dibawa ke Solo dan dihadapkan kepada Gubernur Militer Kolonel Gatot Soebroto. Meski termasuk buronan kelas kakap, tiada seorang pun dari kelompok Amir yang diborgol. Para tawanan diperlakukan dengan baik dan dijamu dengan layak.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.















