PADA 1 September 1945, Gatot Soebroto, bekas Daidancho (komandan batalyon) III Banyumas, bersama bekas perwira PETA (Pembela Tanah Air) dari seluruh daerah keresidenan berkumpul di gedung Yosodarmo, Purwokerto. Rapat yang dihadiri sekitar 60 orang itu juga diikuti tokoh-tokoh partai, wakil organisasi pemuda, serta pejabat setempat.
Rapat selama enam hari itu mengambil tiga keputusan. Pertama, orang Jepang di luar kota Purwokerto akan dikumpulkan menjadi satu. Kedua, pengumpulan senjata dari PETA dan tentara Jepang. Ketiga, mengirim delegasi untuk berunding dengan pucuk pimpinan tentara Jepang.
Pada 9 September 1945, delegasi yang dipimpin oleh Soedirman, Iskaq Tjokrohadisurjo, Sutirto, dan wakil golongan pemuda berunding dengan komandan pasukan Jepang, Takaze, dan Syucokan (kepala pemerintahan keresidenan), Iwasige. Para pemuda bersenjata bambu runcing dan golok mengepung tempat perundingan di markas Kido Butai itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.
















