- 15 Mei 2021
- 6 menit membaca
Diperbarui: 7 Mar
BAGI banyak orang Indonesia, Idulfitri tidak hanya ditandai dengan silaturahmi antarkeluarga dalam bentuk mudik seorang anak ke rumah orang tuanya, atau kunjungan dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Lebaran juga identik dengan kunjungan lainnya, yakni kunjungan ke kebun binatang. Mereka yang mudik bertandang ke kebun binatang di kampung halamannya. Mereka yang tidak mudik juga tidak diam saja di rumah, dan ada yang memilih datang ke kebun binatang di kota tempatnya tinggal sebagai cara hemat mencari hiburan di hari libur.
Keluarga-keluarga Indonesia, dengan berbagai sarana transportasi yang mereka punya, dengan bahagia plesiran ke kebun binatang, terutama pada hari kedua Lebaran. Di sana mereka membentangkan tikar, menikmati makanan tradisional dari rantang yang dibawa dari rumah, berbincang di bawah naungan pohon-pohon besar yang membawa angin semilir yang sejuk, dengan sesekali ditingkahi beragam suara hewan.
Kebun binatang adalah pemandangan alam liar yang direproduksi dalam versi mini, tapi toh bagi banyak orang kota lanskap itu menawarkan hal-hal yang sulit mereka temukan sehari-hari di balik tembok-tembok kota: keindahan, kesegaran, kealamian. Sulit untuk membawa semua anggota keluarga mendaki gunung –guna merasakan pengalaman berada di alam liar yang sebenarnya–, maka kebun binatang adalah solusi tepat bagi kalangan tua, muda, dan kanak-kanak.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















