top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Pola Hidup Sederhana ala Orba

Presiden Soeharto mencanangkan gerakan hidup sederhana bagi para pejabat negara pada 1974. Dalam praktiknya, kampanye ini lebih sebagai “gimmick” ketimbang aksi nyata.

16 Okt 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Ilustrasi Presiden Soeharto menerima seorang menteri. (M.A. Yusuf/Historia.ID).

  • 16 Okt 2025
  • 12 menit membaca

Diperbarui: 20 Nov 2025

WIDJAYANTI, warga kampung Suryoputran, Yogyakarta, tergelitik kala membaca iklan pesta tahun baru di sebuah suratkabar. Perhelatan akbar dalam rangka tutup tahun 1978 itu bakal digelar di Hotel Mandarin, Jakarta. Biaya tiket masuknya Rp.60.000 –kalau dikonversi, sekarang senilai Rp2.500.000. Sebagai suguhan pertunjukan, penyanyi jazz internasional Sherry Williams didatangkan demi menghibur para penonton yang sudah membayar mahal.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page