top of page

Maria Ullfah’s Two Loves

Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Maria Ullfah married Soebadio Sastrosatomo, with Soedjatmoko serving as a witness. (Courtesy of Maria Ullfah’s family)

3 Sep
10 menit membaca

SITI Soendari, Maria’s close friend since their youth, could never understand how Maria felt about men. When it came to her relationships with men, Maria preferred to keep her feelings deeply hidden. Unlike Soendari, who was often deeply moved by matters of the heart, Maria focused most of her attention on her studies. “I’ve never seen her cry. We’ve never shared personal stories with each other, as two young women who are so close usually do,” Soendari told Gadis Rasid, author of Maria Ulfah Subadio, Pembela Kaumnya (Maria Ulfah Subadio, Defender of Her People).


As she admitted to Gadis Rasid, while studying in the Netherlands, Maria felt she wasn’t ready to deal with romantic relationships. “So, upon her return to Indonesia, she began to open up to men,” wrote Gadis Rasid. Among Maria Ullfah’s many fellow activists and admirers, there were three men who were closest to her and harbored feelings that went beyond mere camaraderie among fellow activists. They were Adnan Kapau Gani, Hindromartono, and Santoso Wirodihardjo.


Regarding Adnan Kapau Gani, Maria said, “A handsome young man who had once been a movie star, was the most flamboyant of the three.” Speaking to Gadis Rasid, Maria continued her description of Gani: “His behavior was a bit reckless, and his manner was straightforward, without any beating around the bush.” He was so confident he would win Maria’s heart that one day he came to Kuningan to celebrate Eid with the family of Regent Mohammad Achmad, Maria's father. Maria tactfully explained to Gani that she felt nothing special toward him. During the revolution, Gani served as Military Governor of South Sumatra, Minister of Economy in the Sjahrir III Cabinet, and Deputy Prime Minister in the Amir Sjarifuddin Cabinet.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Pengalaman dan usianya membuat Gatot Soebroto acap jadi tempat mengadu para perwira. Namanya tetap abadi di banyak tempat, mulai jalan-jalan protokol hingga RSPAD.
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Perempuan yang tak lelah memperjuangkan nasib sesamanya.
Perempuan yang tak lelah memperjuangkan nasib sesamanya.
Tak hanya mengerahkan satu regu POM ABRI, Manila merekrut seorang pemain untuk dijadikan“informan” khusus guna mengusir hantu suap.
Tak hanya mengerahkan satu regu POM ABRI, Manila merekrut seorang pemain untuk dijadikan“informan” khusus guna mengusir hantu suap.
Rumah komunal di Sulawesi hanya bertahan dalam ingatan.
Rumah komunal di Sulawesi hanya bertahan dalam ingatan.
Lapangan Merah kembali jadi saksi parade para patriot Rusia. Menggaungkan sentimen anti-Nazi dari masa Stalin hingga Putin.
Lapangan Merah kembali jadi saksi parade para patriot Rusia. Menggaungkan sentimen anti-Nazi dari masa Stalin hingga Putin.
transparant.png
bottom of page