top of page

Melihat Kolonialisme Bekerja lewat Teropong Sastra

Selain melalui sumber-sumber sejarah, kolonialisme bisa ditengok melalui karya sastra. Ada potret nyata hingga pembingkaian dari penulisnya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Para kuli membajak lahan perkebunan tembakau di Deli, Sumatera Utara. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons).

20 Mar 2021
5 menit membaca

Diperbarui: 16 Mei

BAGAIMANA kolonialisme bekerja tak hanya bisa dilihat dari tulisan-tulisan sejarah. Ada karya sastra yang berangkat dari kisah sejarah, yang dapat menyuguhkan potret-potret masa penjajahan yang tak tertangkap oleh narasi sejarah. Karya-karya itu dibuat penulis sezaman maupun penulis pasca-kemerdekaan.


Peneliti imagologi dan penerjemah Widjajanti Dharmowijono dalam Dialog Sejarah "Wajah Kolonialisme dalam Sastra" di saluran Youtube dan Facebook Historia, Jumat, 19 Maret 2021, menyebut bahwa ada ratusan karya sastra yang disebut sebagai sastra Indis-Belanda yang merepresentasikan kondisi tanah jajahan pasa masanya.


Widjajanti, yang akrab disapa Inge, menyelesaikan disertasinya di Universiteit van Amsterdam dengan judul Van Koelies, Klontongs en Kapiteins, Het Beeld van de Chinezen in Indisch-Nederlands Literair Proza 1880-1950 yang kemudian diterjemahkan menjadi Bukan Takdir, Kisah Pencitraan Orang Tionghoa di Nusantara. Disertasi Inge menyoroti bagaimana orang Tionghoa dicitrakan dalam karya-karya sastra yang dibuat oleh penulis-penulis Belanda dan satu penulis Hungaria.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page