top of page

Bukan Zaman Roro Mendut

Peran iklan rokok dalam meningkatkan perokok perempuan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lola Montez (kiri) dan ilustrasi Roro Mendut (kanan) dari sampul novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya.

15 Jun 2010
4 menit membaca

Diperbarui: 24 Apr

INGAT Roro Mendut? Seorang gadis cantik asal Pati yang hidup pada abad ke-17. Ia sering diasosiasikan dengan rokok lintingan, yang dia hisap lalu jual, sebagai bentuk perlawanan terhadap penerapan pajak dari Mataram. Di Jawa khususnya, perempuan merokok menjadi kelaziman. Penari sintren di Banyumas, misalnya, digambarkan suka merokok siong, dengan aroma kemenyan yang menyengat, sehingga ada merek Siong yang bergambar penari sintren.


Rokok mulai dikenal setelah Christopher Colombus menemukan kebiasaan merokok di kalangan lelaki maupun perempuan di sebuah benua baru yang kemudian dikenal sebagai benua Amerika. Kebiasaan merokok kemudian menyebar. Tapi rokok selalu diidentikkan dengan laki-laki. Perempuan yang merokok di depan umum dianggap “perempuan jalang”.


Pada 1851, seorang Amerika kelahiran Irlandia, Lola Montez, diambil gambarnya sedang memegang rokok di tangannya, yang bersarung tangan hitam, di sebuah studio di Boston. Foto Montez pun dianggap sebagai simbol perlawanan dan emansipasi perempuan. Tapi stigma terhadap perempuan merokok masih melekat kuat. Pada 1908, seorang perempuan di New York ditangkap karena menghisap rokok di depan umum. New York adalah kota yang galak untuk perokok perempuan karena memiliki Sullivan Act.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page