- 27 Mar 2012
- 4 menit membaca
Diperbarui: 28 Des 2025
BAGI penikmat dunia hiburan tanah di zaman baheula, namanya tentu tak asing lagi. Dia tergolong artis serba-bisa. Menyanyi. Berakting. Tampil di atas panggung. Padahal kariernya dimulai dari seorang kacung dalam sebuah rombongan sandiwara di Bandung, melakukan pekerjaan menyapu hingga membersihkan alat musik.
Tan Tjeng Bok masih berumur 13 tahun kala itu. Di rombongan sandiwara De Goudvissen ini, dia tak mendapat gaji. Hanya makannya ditanggung. Imbalan paling berarti baginya adalah alunan suara dari sang penyanyi pujaan Ben Oeng (Beng). Tjeng Bok memendam hasrat pada dunia tarik suara.
Tak dinyana, keberuntungan datang padanya. Beng berhalangan tampil, dia pun didapuk untuk menggantikannya. Walau cuma dibekali latihan kilat, penampilan perdananya tergolong sukses. Modal ini membuatnya percaya diri untuk bergabung dengan grup keroncong Hoot Visen. Tjeng Bok juga mulai kerap mengikuti kontes nyanyi keroncong. Karena sering keluar sebagai juara, dia pun dikenal sebagai “buaya keroncong” di Bandung. Dia menapak karier di dunia hiburan, sekalipun ayahnya tak merestui.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















