- 15 Jan 2021
- 3 menit membaca
Diperbarui: 11 Apr
MINAT Chairil Anwar terhadap dunia sastra memang telah terasah sedari remaja. Waktu bersekolah di MULO Medan, Chairil tercantum sebagai anggota redaksi majalah dinding Ons MULO Blad. Di sana, Charil kerap menuangkan karya dalam bentuk prosa. Di balik jiwa seninya, Chairil memiliki kepribadian yang nyentrik. Chairil yang gemar bermain pingpong itu akan selalu berteriak jingkrak-jingkrak kalau menang.
“Tingkah laku inilah yang menarik perhatian saya. Ah, jadi inilah Chairil Anwar,” tutur Hans Bague Jassin dalam bunga rampai Memoar Senarai Kiprah Sejarah Jilid 1. Waktu itu, Chairil siswa MULO (setara SMP) berusia 14 sedangkan Jassin lima tahun lebih tua dan duduk di bangku HBS (setara SMA).
Perkenalan Chairil dan Jassin selanjutnya terjadi di Batavia. Pada zaman pendudukan Jepang, Chairil menjadi penyiar radio Jepang sembari menulis puisi dan sajak. Sementara itu, Jassin bergiat di majalah Panji Pustaka sebagai wakil pemimpin redaksi. Mereka terlibat aktif diskusi sastra yang diselenggarakan Himpunan Sastrawan Angkatan Baru. Dalam wadah itu, Chairil dan Jassin mulai bersahabat karib.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.
















