top of page

Pembantaian Kilat di Rengat

Operasi militer Belanda paling berdarah di Sumatra. Tak banyak tercatat dalam sejarah resmi kedua negara.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sungai Indragiri saksi bisu pembantaian di Rengat, 5 Januari 1949. (KITLV).

30 Mei 2023
5 menit membaca

Diperbarui: 4 Mei

FAJAR menyingsing di Kota Rengat, ibu kota Kabupaten Indragiri, Riau. Pagi hari sekira pukul 06.00, Letnan Muda Wasmad Rads, prajurit TNI dari Batalyon III Resimen IV Divisi IX Banteng Sumatra, berjalan-jalan menyusuri kota.


Dari arah tenggara kota, tiba-tiba sepasang pesawat bercocor merah terbang rendah. Pesawat tempur pengebom jenis Mustang P-51 itu berpanji triwarna: Merah Putih Biru. Belanda datang menyerang.


“Mereka menjatuhkan bom di jalan-jalan, alun-alun pasar di mana orang-orang berbelanja, dan rumah penduduk. Mereka bahkan menembaki orang-orang yang berdiri di atas tanah,” kenang Wasmad Rads dalam memoarnya Lagu Sunyi dari Indragiri.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page