- 30 Mei 2023
- 5 menit membaca
Diperbarui: 4 hari yang lalu
FAJAR menyingsing di Kota Rengat, ibu kota Kabupaten Indragiri, Riau. Pagi hari sekira pukul 06.00, Letnan Muda Wasmad Rads, prajurit TNI dari Batalyon III Resimen IV Divisi IX Banteng Sumatra, berjalan-jalan menyusuri kota.
Dari arah tenggara kota, tiba-tiba sepasang pesawat bercocor merah terbang rendah. Pesawat tempur pengebom jenis Mustang P-51 itu berpanji triwarna: Merah Putih Biru. Belanda datang menyerang.
“Mereka menjatuhkan bom di jalan-jalan, alun-alun pasar di mana orang-orang berbelanja, dan rumah penduduk. Mereka bahkan menembaki orang-orang yang berdiri di atas tanah,” kenang Wasmad Rads dalam memoarnya Lagu Sunyi dari Indragiri.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















