- Martin Sitompul

- 12 jam yang lalu
- 4 menit membaca
Diperbarui: 1 jam yang lalu
DI Kebun Raya Bogor, ada nama jalan yang terdengar asing. Nama itu tidak diserap dari makna lokal, malah cenderung bernuansa Eropa. Jalan Astrid namanya. Nama ini merujuk kepada sosok Putri Astrid, putri Kerajaan Belgia yang pernah berkunjung ke Bogor pada masa kolonial.
“Putri Astrid ini seorang botanis, pencinta tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Akhirnya namanya diabadikan sebagai salah satu jalan di Kebun Raya Bogor,” tutur Suryagung, arsiparis sekaligus ketua tim pameran ANRI ketika memandu Historia.ID dalam pomeran arsip 75 Tahun Hubungan Indonesia-Belgia, beberapa waktu silam.
Pada 1928, Putri Astrid berkunjung bersama suaminya, Pangeran Leopold, putra mahkota Kerajaan Belgia. Waktu itu mereka baru saja melangsungkan pernikahan. Jadi, perjalanan Astrid dan Leopold ke Kebun Raya Bogor masih dalam momen berbulan madu. Selain ke Bogor, pasangan ini juga mengunjungi Surakarta, Surabaya, dan Bali.
Ketika di Kebun Raya Bogor, Putri Astrid paling senang dengan bunga kana (Canna hybrida) atau disebut pula bunga tasbih. Setelah kunjungan itu, pengelola Kebun Raya Bogor kemudian membuat Jalan Astrid untuk menghormati Putri Astrid dan Pangeran Leopold. Di tengah ruas Jalan Astrid itu ditamani 29 petak bunga, yang merujuk tahun pembuatan jalan tersebut, 1929.
Menurut tim penulis LIPI dalam Kebun Raya Bogor: Dua Abad Menyemai Kekayaan Tumbuhan Bumi di Indonesia, bunga kana mengisi 29 petak bunga di Jalan Astrid. Bunga-bunga kana ini berwarna merah dan kuning serta daun yang berwarna gelap. Komposisi warna ini melambangkan warna bendera Belgia, yaitu merah, kuning, dan hitam. Bersamaan dengan itu, dibangun pula danau teratai raksasa yang diberi nama Danau Victoria.

Pada 1932, Leopold dan Astrid kembali ke Hindia Belanda untuk memperluas kunjungan mereka ke Jawa (Sarangan), Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Leopold kelak naik takhta sebagai raja Belgia dengan gelar Leopold III pada 1934. Sayang, Astrid tak lama mendampingi Leopold sebagai ratu.
Ratu Astrid meninggal dunia pada 1935 akibat kecelakaan mobil dalam perjalanan hiking di Swiss. Leopold yang mengendarai mobil mengalami luka ringan. Rakyat Belgia berkabung atas wafatnya ratu mereka yang masih muda dan cantik jelita itu. Tidak hanya orang Belgia, rakyat Swedia juga ikut berduka, sebab Astrid berasal dari Swedia. Astrid yang lahir di Stockholm, Swedia pada 17 November 1905, merupakan cucu dari Raja Swedia Oscar II.
Putra sulung Leopold dan Astrid, Baudouin kelak menjadi raja Belgia menggantikan ayahnya. Baudoin naik takhta sebagai raja pada 1951. Sama seperti orangtuanya, Baudouin juga pernah berkunjung ke Indonesia.
Raja Baudouin bersama permaisurinya, Ratu Fabiola, tiba di Jakarta pada 21 Oktober 1974. Kedatangan mereka dalam rangka kunjungan balasan setelah Presiden Soeharto berkunjung ke Belgia dua tahun sebelumnya. Dari lamanya kunjungan, Baudoin dan Fabiola tampaknya menikmati hari-hari mereka selama di Indonesia.
“Raja Baudouin dan Ratu melakukan kunjungan ke Indonesia selama 13 hari. Betah juga ya mereka di sini,” ujar Suryagung berkelakar.

Majalah Tempo, 16 November 1974, menyebut kunjungan Raja Baudouin dan Ratu Fabiola sebagai rekor jalan-jalan tamu kenegaraan di Indonesia yang paling lama. Mereka berkunjung dari tanggal 21 Oktober sampai 2 November 1974. Pasangan ini mengikuti tidak kurang dari 65 acara. Mulai dari Jakarta, Bogor, Padang, Medan, Magelang, Yogyakart, Sala, kembali Jakarta, kemudian Bali.
Kegiatan Raja Baodoin dan Ratu Fabiola mecakup tur budaya ke Candi Borobudur di Jawa Tengah, serta perjalanan ke Sumatra Utara untuk mengaggumi Air Terjun Sipiso-piso yang menghadap ke Danau Toba. Sejalan dengan kunjungan raja dan ratu Belgia ini, pemerintah Belgia menyumbangkan 300.000 tablet obat cacing kepada Indonesia. Maklumlah, penyakit cacingan saat itu masih marak diderita anak-anak Indonesia.
Pada 22 Oktober 1974, Ratu Fabiola mengunjungi Kebun Raya Bogor sekaligus menjejaki jalan bersejarah Jalan Astrid untuk menghormati ibu mertuanya, Ratu Astrid. Di sisi lain, sikap Baudouin yang begitu gentle terhadap Fabiola juga menarik perhatian. Meskipun sudah ada protokol, Baudouin selalu mengantar istrinya ke depan pintu mobil yang dalam iring-iringan termasuk nomor dua. Turun tangga, jalan-jalan, lengan Fabiola selalu tak lepas dari genggamannya.
“Selalu mesra seperti orang pacaran saja,” kata Nelly Adam Malik, istri Menteri Luar Negeri Adam Malik, seperti dikutip Tempo.
Selain Baudouin, adiknya Pangeran Albert juga beberapa kali berkunjung ke Indonesia. Antara 1970–1985, Pangeran Albert melakukan tiga kali kunjungan ke Indonesia bersama delegasi ekonomi besar. Pangeran Albert kemudian naik takhta menggantikan Baudouin yang tidak memiliki anak.

Albert II dinobatkan sebagai raja Belgia pada 1993 hingga 2013. Albert II kemudian digantikan oleh anak sulungnya Philipe. Raja Philipe menjadi raja Belgia yang masih berkuasa sampai saat ini.
Anak kedua Albert II, Putri Astrid pernah berkunjung ke Indonesia. Pada Maret 2016, Putri Astrid bersama delegasi besar dari kalangan bisnis dan akademisi, melakukan misi ekonomi ke Indonesia. Putri Astrid juga merupakan cucu dari Raja Leopold III dan Ratu Astrid. Kunjungannya ke Indonesia sekaligus untuk melihat rekam sejarah neneknya di Jalan Astrid Kebun Raya Bogor.
“Sangat indah... sangat indah. Saya senang berada di sini,” kesan Putri Astrid, dilansir Kompas, 17 Maret 2016, saat berkunjung ke Kebun Raya Bogor.
Putri Astrid mengabadikan dokumentasi dirinya ketika berada di Jalan Astrid. Dalam sebuah potret, Putri Astrid tampak menunjuk plang nama “Jalan Astrid”. Jejak sejarah kiranya mempertemukan cucu dan nenek dari kerajaan Belgia itu di Kebun Raya Bogor.*













Komentar