top of page

Guntur 49: Rumah Orang Kita

Saksi bisu perlawanan dari zaman ke zaman. Tempat singgah bagi aktivis.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ruangan rumah Guntur 49. (Micha Rainer Pali/Historia.ID).

23 Jul
5 menit membaca

DUA pohon mangga tumbuh menjulang tinggi di halaman rumah yang dipagari pagar besi berwarna hitam. Beberapa bangku tua menghiasi teras depan dan ruangan tamu. Letak rumah itu hanya sekira 50 meter di belakang markas Polisi Militer Pomdam Jaya di Jalan Guntur. Tak sulit menemukannya, karena pada tembok depan rumah terpampang plang nama “Pusat Dokumentasi Politik Guntur 49”. Guntur 49 adalah nama jalan sekaligus nomor rumah yang selalu diramaikan oleh kegiatan para aktivis.


Sang empunya rumah itu adalah Maria Ullfah. Dia bersama suaminya, Mr. Santoso Wirodihardjo membeli rumah itu pada 1938. Sebelumnya, pasangan muda itu bertempat tinggal di Jalan Salemba Tengah kemudian mengontrak rumah kecil di Jalan Jambrut Kramat VIII, Jakarta Pusat. Ketika revolusi kemerdekaan meletus, pasangan yang tak dikaruniai anak itu harus hidup berpisah.


Santoso harus mengemban tugas sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berkantor di Solo. Sementara Maria tetap tinggal di Jakarta dan kemudian hijrah ke Yogyakarta, turut menjalankan pemerintahan sebagai Menteri Sosial di bawah Kabinet Sutan Sjahrir dan sebagai sekretaris kabinet di bawah Perdana Menteri Amir Sjarifuddin.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page