- 6 jam yang lalu
- 3 menit membaca
SEBAGAI anak pegawai tinggi di Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang sering berpindah kantor cabang, hidup anak-anak dari keluarga JMM Pandjaitan harus berpindah-pindah. Setidaknya mereka pernah tinggal di Surabaya dan Palembang sebelum di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Wajar jika anak-anak dari pasangan Drs. JMM Pandjaitan-Bosani Sitompul itu ada yang sedikit paham bahasa Palembang.
Sebagai orang-orang Batak, mereka terbiasa dengan musik sejak bocah. Maka tak heran selepas masa remaja, anak-anak itu sudah bisa bermain alat musik. Terlebih JMM Pandjaitan sang ayah dengan posisi di kantornya setidaknya mampu membelikan alat-alat musik murah untuk sekadar “ngeband”.
Portohan Bonetua Marangin Sitorduga Pandjaitan alias Hans sebagai anak tertua dari empat anak JMM Pandjaitan lalu membentuk sebuah band. Dirinya memainkan gitar melodi. Lalu ada Benny –lengkapnya Mimbar Porbenget Mual Hamonangan Pandjaitan– yang pada 1971 sudah 24 tahun, bisa juga bermain tamborin dan banjo. Benny sang anak kedua bermain keyboard sambil bernyanyi di band. Benny, berusia 23 tahun, adalah penyanyi utama di band. Selain keyboard dia bisa memaikan seruling, gitar, dan harmonika. Anak ketiga dalam band, Domu Pangidoan Pandjaitan yang disapa Doan, bermain bass meski dia bisa bermain piano dan gitar juga. Doan baru 22 tahun usianya. Asido Pandjaitan alias Sido adalah yang termuda, dialah penggebuk drum di band ini.
Band yang didirikan ketika mereka sudah lepas masa remaja itu lalu mereka namai Pandjaitan Bersaudara, disingkat Panbers. Ketika bocah di Palembang tahun 1957, mereka mengaku diri sebagai Tumba Band. Mereka suka Beatles dan band-band rock Barat lain. Setelah bisa main alat musik, anak-anak keluarga Pandjaitan ini sudah mulai membuat lagu pop.
“Mula-mula kami mencari syair-syair,” aku Benny Pandjaitan, yang bersama saudara-saudaranya mengaku ingin membuat musik bermutu, kepada Aktuil No. 81 tahun 1971. “Kemudian baru kami karang aransemen yang memakan waktu cukup lama, karena kami harus menyesuaikan lagu tersebut dengan selera masyarakat pada saat ini umumnya.”
Benny dan saudara-saudaranya tahu bahwa untuk hidup di industri musik mereka harus tahu apa yang ingin didengarkan telinga masyarakat. Tonny Koeswoyo, dedengkot Koes Plus, adalah panutan mereka dalam membuat lagu dan bermusik. Benny dan saudara-saudaranya kerap sowan ke Tonny yang sudah dianggap jadi kakak sendiri bagi mereka. Apalagi sebelum rekaman.
Dalam Aktuil No. 93 tahun 1972, Benny ingat kalimat yang Tonny ucapkan: “Okey timming-nya sudah tepat.” Jika Tonny sudah bilang begitu, itu pertanda mereka sudah siap rekaman untuk album pertama di Mesra Record. Album pertama mereka, Panbers Pandjaitan Bersaudara Volume I, rilis tahun 1971. “Kami Tjinta Perdamaian” dan “Achir Tjinta” jadi lagu andalan album yang dirilis sebelum Ejaan Yang Disempurnakan diberlakukan itu.
“Kami Tjinta Perdamaian” mengisahkan tentang perdamaian mereka. Maka ada gambar dua jari lambang perdamaian di sampul album pertama mereka itu. Tema perdamaian paling sering didengungkan para generasi baby boomers –generasi yang lahir setelah 1945 hingga 1960-an– seperti mereka setelah konser Woodstock 1969 dan munculnya Flower Generation (Generasi Bunga) yang menolak Perang Dingin. Dua jari lambang perdamaian itu di era Orde Baru kerap dipakai Golongan Karya (Golkar) dalam Pemilu karena setelah Pemilu 1971 Golkar selalu nomor urut dua.
Lagu andalan lain di album pertama itu, “Achir Tjinta”, tentu bercerita tentang cinta. Lagu ini adalah lagu yang pertama mereka ciptakan.
“Lagu ini kami buat kira-kira tahun tujuh puluh, pertengahan tujuhpuluh,” aku Benny dalam Aktuil No. 93 tahun 1972.
Mula-mula, mereka membuat syair terlebih dulu. Aransemen musiknya menyusul kemudian. Mereka butuh waktu enam bulan untuk membuatnya.
“Dan sangat beruntung lagu yang mengawali debut kami ini dapat kami bawa serta untuk mengisi ilustrasi film nasional Matahari Hampir Terbenam,” sambung Benny.
“Akhir Cinta” yang melankolis itu mengisahkan tentang kegalauan akibat patah hati. Penyanyi-penyanyi Batak biasanya menggambarkan kesedihan dengan suara yang sangat lantang. Benny mempraktekan itu dalam “Akhir Cinta” maupun lagu-lagu melankolisnya yang lain.
Bagian akhir lagu tersebut, “hanya titik, air mata dan senyum kehancuran,” menempel dalam ingatan banyak pendengarnya di era analog. “Akhir Cinta” menjadi salah satu lagu Panbers yang paling diingat di ranah musik pop Indonesia.
Setelah album Panbers Pandjaitan Bersaudara Volume I, mereka mengeluarkan beberapa album lagi. Nama Panbers termasuk besar di belantika musik pop Indonesia. Mereka sering mendapat undangan manggung. Mereka tak ragu berbagi panggung dengan band-band yang dianggap lebih hebat dari mereka.
Panbers membuat lagu cengeng tak terlihat seperti orang yang sekadar menangis tersedu-sedu. Mereka seperti menghadapi kesedihan dengan penuh energi. Mereka mendahului Trio Ambisi. Lagu lain Panbers yang terkenal di jagat musik pop tanah air adalah “Gereja Tua”. Lagu era 1980-an ini terkait pengalaman Benny yang bersekolah di sebuah gereja di Palembang. “Hanya satu, yang tak terlupakan, kala senja di gereja tua, waktu itu hujan rintik-rintik....,” demikian bunyi bagian liriknya yang diiingat banyak pendengarnya.
Seperti “Akhir Cinta”, dalam “Gereja Tua” Panbers juga membawakan kesedihan dengan penuh tenaga pada bagian reff-nya. Kelugasan musik-musik melankolis Panbers menjadi salah satu referensi muda-mudi di banyak kampung yang berkumpul dengan sebuah gitar dan lagu seperti “Gereja Tua” atau “Akhir Cinta” menjadi salah satu dari sekian lagu sedih yang mereka nyanyikan untuk melepas penat.*













Komentar