top of page

Di Balik Lagu “Maria”

Yok Koeswoyo seniman yang peka dalam berkarya. Termasuk ketika ditinggal mati istrinya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Yok Koeswoyo sedang menyanyikan lagu "Maria" yang diciptakan untuk mengabadikan mendiang istrinya (tangkapan layar Youtube)

15 Agu 2023
3 menit membaca

Diperbarui: 3 Jul

“Maria... Maria... Oooh.. Mariaaa...” syair lagu tersebut terus mengalun dari mulut pria kurus berambut putih itu. Kendati senyum kerap tersungging di bibirnya, matanya tak mampu menyembunyikan rasa sedih dan kehilangan dalam dirinya.


Begitulah penampilan Yok Koeswoyo, yang tenar di masa lalu bersama Koes Plus, ketika melantunkan tembang berjudul “Maria” dalam acara “Yok Koeswoyo Beraksi” di THR Sriwedari, Solo, 21 November 2011. Amat menghayati. Kendati nyaris 40 tahun usianya, lagu ciptaan Yok itu tetap memancar sebagai “wakil” kepedihan dalam penggalan perjalanan hidupnya.


Perjalanan lagu “Maria” itu bermula dari “Kota Hujan”. Setelah singgah makan bersama di Restoran Situ Lebak Wangi, Bogor, dua keluarga kecil itu naik mobil Fiat 125S untuk pulang ke Jakarta. Ketika melewati daerah Parung pada Kamis sore, 28 Desember 1973, Fiat itu disalip sebuah mobil Mini Cooper. Namun beberapa puluh meter di depan, Mini Cooper bertabrakan dengan sebuah truk Isuzu yang melaju ke arah Bogor. Truk buatan Jepang itu lalu hilang kendali hingga menabrak Fiat yang melaju ke arah Jakarta tadi.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page