top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Jalan Cornelis Speelman Menjadi Gubernur Jenderal

Cornelis Janszoon Speelman dipandang sebagai pahlawan VOC setelah memenangkan Perang Makassar. Jalan Speelman menjadi Gubernur Jenderal semakin terbuka lebar.

4 Mar 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Lukisan Cornelis Janszoon Speelman, Gubernur Jenderal VOC yang memerintah dari tahun 1681-1684. (Wikimedia Commons).

  • 3 hari yang lalu
  • 4 menit membaca

BUTUH waktu lama bagi pegawai VOC untuk mencapai posisi berpengaruh dan prestisius dalam perusahaan dagang Hindia Timur tersebut. Mereka harus bekerja puluhan tahun di wilayah koloni yang iklim dan kehidupannya berbeda dengan negara asal, menunjukkan kecakapan di tengah persaingan sengit dengan sesama pegawai, dan selamat dari wabah penyakit tropis yang merenggut nyawa banyak orang Eropa.


Untuk menarik perhatian para petinggi VOC, Heeren Zeventien atau Dewan Tujuh Belas, agar mendapatkan promosi dalam waktu singkat, seorang pegawai VOC harus memiliki kecakapan di berbagai bidang atau koneksi dengan tokoh-tokoh penting di lingkungan Kompeni.


Cornelis Janszoon Speelman berhasil menduduki posisi Gubernur Jenderal VOC lewat kecakapannya di berbagai bidang terutama dalam militer. Lahir di Rotterdam, 3 Maret 1628, Speelman kerap digambarkan sebagai orang biasa dari kalangan rendah yang mampu menjadi orang nomor satu VOC di wilayah koloni berkat kemenangannya dalam Perang Makassar.



Namun, menurut sejarawan Belanda Frederik Willem Stapel dalam “Cornelis Janszoon Speelman”, termuat di Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1936, Speelman sesungguhnya bukan orang yang lahir dari kalangan biasa. Ayahnya yang lahir di Vlaardingen menjadi kapten kapal saat menetap tak lama di Rotterdam sebelum tahun 1618. Pada 1624, sebagai komandan kapal Eendracht, dia ambil bagian dalam penaklukan Bahia de todos los Santos, di bawah komando Laksamana Jacob Wilekens. Setelah kembali dari ekspedisi ini, dia meninggalkan kehidupan sebagai kapten kapal dan beralih profesi menjadi pedagang.


“Menurut catatan notaris Rotterdam, dia melakukan bisnis besar sebagai pedagang, menjadi pemilik bersama gudang garam di Leuvehaven, dan ikut serta dalam pengadaan berbagai kapal, baik untuk pelayaran laut maupun sungai... Ibu Speelman sendiri berasal dari keluarga terkenal... di mana saudara perempuannya pernah menikah dengan pedagang kaya dan seorang dokter yang juga dikenal sebagai pemuka agama... Dalam perjalanan karier Cornelis Janszoon Speelman terlihat bahwa dia memiliki teman dan pelindung, mulai dari petinggi kota hingga pengurus Kamer Rotterdam yang menjadi bagian dari Perusahaan Dagang Hindia Timur,” tulis Stapel.


Tak banyak informasi mengenai masa kecil Speelman, namun dia diyakini mendapatkan pendidikan yang baik. Pada usia enam belas tahun dia mulai berkarier di VOC sebagai asisten, sebuah pangkat awal dari hierarki pegawai berkualifikasi. Para asisten dituntut dapat menulis dan menyusun catatan dengan baik, serta mahir dalam pembukuan dan perhitungan. Dari berbagai surat, jurnal, memo, hingga catatan yang dibuat Speelman terlihat bahwa dia memiliki gaya penulisan yang jelas dan tegas serta pengetahuan luas.


Kamer Rotterdam mempekerjakan Speelman sebagai asisten pada 1644 dengan gaji f.18 per bulan, Pada 30 Desember 1644, dia berlayar menuju Batavia dengan kapal Hillegaertsberch. Setelah tiba di Batavia pada 14 Mei 1645, Speelman ditempatkan di kantor gaji selama lebih dari enam tahun. Arsip-arsip Kompeni tidak banyak mencatat detail tentangnya selama periode ini, tetapi promosinya yang cepat menunjukkan bahwa Speelman bekerja dengan baik dan memuaskan atasannya. Pada 1648, setelah tiga tahun bertugas, dia dipromosikan menjadi akuntan dengan gaji f.28 per bulan. Pada 1649, dia mencapai pangkat pedagang junior atau onderkoopman, pemegang buku besar, dengan gaji f.45.



Sejarawan Mona Lohanda mencatat dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia, Speelman memperoleh status sebagai pedagang atau koopman pada 1652. Dia pernah pula menjabat presiden College van Schepenen (Dewan Pengadilan bagi Golongan Swasta) tahun 1659, tetapi kemudian ditugaskan sebagai gubernur Sri Lanka selama dua tahun (Juni 1663–September 1665). Nama Speelman semakin menonjol setelah kembali ke Batavia. Dia ditugaskan untuk menangani persoalan dengan Makassar yang diselesaikan lewat Perjanjian Bongaya, 18 November 1667. Namun, perang dengan kerajaan di bagian timur Indonesia itu belum selesai. Makassar masih tetap bertahan dan melawan, sehingga ekspedisi militer kembali dilancarkan dari April 1668 hingga Juni 1669.


Pada awal ekspedisi menyerang Makassar, Speelman ditunjuk sebagai pemimpin ekspedisi militer sekaligus pengawas yang bertanggung jawab terhadap VOC. Armada Speelman terdiri dari 21 kapal dengan hampir 1.900 orang di antaranya sekitar 400 tentara bayaran. Pada awal Januari 1667, Speelman menyerang pasukan Makassar. Dalam beberapa hari, dia berhasil memukul telak pasukan Makassar.


“Setelah memeriksa Amboina dan Banda, Speelman kembali ke Selatan Celebes pada pertengahan 1667. Saat itu Arung Palakka telah mengerahkan pasukan Bugis di pedalaman. Sejak saat itu, VOC dan Bugis bertempur sebagai sekutu. Mereka mengalahkan Bantaeng dan Galesong. Sementara pertempuran darat berlangsung, armada VOC berpatroli di pantai. Pada September, pasukan Bugis dan Belanda, yang mendekati dari selatan, mencapai benteng-benteng yang menjaga Makassar. Mulai akhir Oktober, negosiasi berlangsung, yang berujung pada Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667,” tulis sejarawan Gerrit Knaap dalam Genesis and Nemesis of the First Dutch Colonial Empire in Asia and South Africa, 1596–1811.



Keberhasilan Speelman dalam Perang Makassar membuatnya dikenal sebagai “pahlawan” VOC. Berkat kemampuannya itu, Speelman yang telah menjadi anggota Pemerintah Tinggi, ditugaskan ke Jepara sebagai Laksamana dan Pengawas untuk memediasi Mataram dengan Trunajaya yang tengah terlibat sengketa.


“Cornelis Speelman dua kali diangkat sebagai anggota Dewan Hindia tahun 1667 dan 1671. Akhir tahun 1676 dia dikirim ke Jawa Timur untuk menangani kericuhan yang ditimbulkan oleh konspirasi Trunajaya dan Pangeran Puger dari Mataram. Tetapi setahun kemudian Speelman ditarik kembali ke Batavia, sementara perlawanan Trunajaya terus berlangsung,” tulis Mona.


Pada 18 Januari 1678, Speelman diangkat lagi sebagai anggota Dewan Hindia dengan kedudukan direktur jenderal, posisi nomor dua sesudah Gubernur Jenderal VOC. Tiga tahun berselang, dia diangkat menjadi Gubernur Jenderal menggantikan Rijklofs van Goens. Masa pemerintahan Speelman tidak berlangsung lama karena dia meninggal dunia di Kastil Batavia pada 11 Januari 1684. “Upacara penguburannya memakan biaya 131.400 riksdalders. Tetapi ini menandai awal ketidakberesan administrasi dan pemerintahan VOC di Batavia,” jelas Mona.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Murka karena utusannya dibantai dengan bengis, Sultan Mehmed II membalas dengan kekuatan penuh. Walau berhasil kabur, nasib Vlad Dracula berakhir tragis.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Pahit Getir Hidup Sjahrir

Pahit Getir Hidup Sjahrir

Menjelang akhir hayatnya, Sutan Sjahrir hidup sebagai tahanan dalam perawatan. Namun, justru pada saat itulah putrinya merasakan kehidupan sebagai keluarga yang utuh.
Gowa Masuk Islam

Gowa Masuk Islam

Islamisasi di Gowa dan Makassar makan waktu panjang meskipun raja-raja di sana sangat terbuka.
bottom of page