- 4 hari yang lalu
- 4 menit membaca
NEGARA-NEGARA Barat bersorak seiring terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel. Sebaliknya, serangan AS-Israel yang membunuh Khamenei itu memicu duka mendalam negara-negara seperti Malaysia, Rusia, China, Türkiye, Korea Utara, Irak, dan Pakistan.
“Sebuah pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja melanggar semua norma moralitas manusia dan hukum internasional. Di negara kami, Ayatullah Khamenei akan selalu dikenang sebagai negarawan luar biasa yang telah membuat kontribusi besar terhadap peningkatan relasi persahabatan Rusia-Iran, membawanya ke tingkat kemitraan strategis yang komprehensif,” ungkap Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pesan persnya, dilansir Euronews, Minggu (1/3/2026).
Khamenei, ulama tertinggi Syiah di Iran, jadi target pembunuhan seiring agresi keroyokan AS-Israel. Agresi itu dilancarkan pada Sabtu (28/2/2026) pagi ke sejumlah kota di Iran, termasuk ibukota Tehran. Tujuannya untuk menggulingkan pemerintahan republik Islam.
Dilaporkan, sekitar 30 bom dijatuhkan jet-jet Israel di kediaman Khamenei yang hendak rapat dengan sejumlah pejabat pemerintahan Iran. Selang beberapa jam, pemerintahan Iran mengumumkan wafatnya Khamenei. Tidak hanya Khamenei, puterinya, menantu, hingga cucu Khamenei yang masih berusia 14 bulan, Zahra Mohammadi Golpayegani, juga turut jadi martir.
Pemerintah Iran pun mengumumkan 40 hari berkabung pasca-wafatnya Khamenei. Masjid Jamkran di Qom mengibarkan bendera merah di pucuk kubahnya sebagai simbol.
Di hari yang sama, sebuah misil AS juga menyasar ke sebuah sekolah dasar puteri di Minab, Iran, sekolah Shajareh Tayyebeh. Sekira 180 murid tewas dibuatnya. Mayoritas berusia 7-12 tahun.
Iran pun membalas. Serangan misil dan drone dilancarkan ke Israel. Serangan balasan itu juga dilancarkan ke sejumlah pangkalan militer AS di Teluk Persia, mulai dari Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, hingga Bahrain.
Belajar dari Imam Khomeini dan Percobaan Pembunuhan
Lahir di Najaf, Irak pada 19 April 1939, Ali Hosseini Khamenei dan kakak-adiknya tumbuh di lingkungan relijius. Ayahnya, Javad Khamenei, merupakan seorang ulama dan mujtahid.
Meskipun tak pernah jauh dari ilmu agama, Khamenei muda tak alergi untuk bertukar pikiran dengan para intelektual kiri dari Partai Nahzat Khoda Parastan e-Sosialists yang terinspirasi Karl Marx, Josef Bros Tito, hingga Ali Shariati.
Di usia 19 tahun, Khamenei berpindah-pindah sekolah dan guru hingga pada 1958 dirinya menetap di Qom. Di kota inilah ia mulai berguru pada para ulama Syiah yang juga kuat akar politik dan gagasan revolusionernya, seperti Seyyed Hossein Borujerdi dan Ruhollah Khomeini.
“Meski lahir dari keluarga yang apolitis, Khamenei ketika belajar di Hawza ‘Ilmiyya di Qom (1958-1964) terpesona oleh gurunya yang kharismatik kala mengajar ideologi politik dan interpretasi Islam. Khomeini memberi Khamenei dan para anak muda Iran harapan dan visi untuk kemajuan. Khamenei mendeskripsikan mentornya: ‘Ia tegak berdiri seperti tembok kokoh terhadap rezim Shah (Pahlavi). Ia tidak gentar akan tekanan. Ia berbicara begitu tegas. Pesannya singkat namun kuat dan masuk ke dalam hati para pendengarnya. Kata-katanya begitu hangat, penuh kebijaksanaan dan pengetahuan...Imam Khomeini sungguh dianugerahi kesadaran dan keberanian politik – dua kualitas yang jarang ditemukan para ulama tertinggi di zamannya’,” ungkap Yvette Hovsepian-Bearce dalam The Political Ideology of Ayatollah Khamenei: Out of the Mouth of the Supreme Leader of Iran.
Darah muda Khamenei yang sudah mendidih pun disalurkannya pada gerakan-gerakan anti-rezim Shah Pahlavi. Terlebih setelah rezim itu mengasingkan mentornya, Imam Khomeini, hingga ke Prancis pada 1964.
Khamenei sendiri pernah enam kali ditangkap dan dipenjarakan rezim Pahlavi. Penangkapan pertama terjadi pasca-Aksi Protes 15 Khordad pada 5 Juni 1963 yang menggema di Qom dan ibukota Tehran. Ia ditangkap aparat polisi rahasia dan intelijen SAVAK dan ditahan selama 10 hari hanya karena terlibat dalam aksi protes itu.
Lalu pada medio Januari 1964, Khamenei kembali diciduk SAVAK. Rezim Shah menganggap apa yang diajarkannya di masjid-masjid dan sekolah-sekolah adalah propaganda anti-pemerintah. Khamenei acapkali mendapat penyiksaan selama dua bulan masa penahanannya.
Sejak penahanan keduanya, Khamenei selalu dalam pengintaian SAVAK. Maka ketika ia diketahui sering bersua ulama-aktivis Akbar Hashemi Rafsanjani (kelak presiden Iran 1989-1997), SAVAK kembali menangkap Khamenei medio 1967 dan September 1970. Ia baru dibebaskan pada Januari 1971.
“Khamenei mengenang dua masa penahanannya itu sangat buruk. SAVAK menempatkannya di sel sempit dan menolak para pembesuknya. Ia hanya diberi sedikit makanan, pakaian yang tidak layak. Ia dibebaskan setelah tiga bulan dan 20 hari dan diancam akan kembali ditahan jika kedapatan berceramah politik lagi,” lanjut Hovsepian-Bearce.
Namun, Khamenei tidak kapok. Ia justru lebih lantang dalam menyuarakan anti-rezim hingga akhirnya SAVAK menangkapnya lagi untuk kelima kali pada 26 September 1971. Juga penahanannya lagi yang keenam kali pada 10 Januari 1975. SAVAK akhirnya mengasingkannya ke Iranshahr pada 11 Desember 1977 dengan cap sebagai ulama anti-pemerintah yang mengancam keamanan nasional.
Dua tahun berselang, Revolusi Islam (7 Januari 1978-11 Februari 1979) sukses menumbangkan Dinasti Pahlavi. Para anggota monarki yang tersisa kabur dan mengungsi ke AS. Iran berubah menjadi republik Islam dan setelah Imam Khomeini kembali dari pengasingan, ia menjadi Ayatullah, pemimpin tertinggi Iran.
Khamenei sendiri dipercaya menduduki jabatan wakil menteri pertahanan sekaligus pengawas Garda Revolusi Iran (IRGC).
Kendati rezim lama tumbang, tetap ada beberapa kelompok yang juga anti-rezim Pahlavi namun tak puas dengan republik Islam. Salah satunya kelompok anti-ulama Furqan Group, yang membunuh ulama Ayatullah Mohammad Mofatteh pada 18 Desember 1979. Lalu ada MEK –Organisasi Rakyat Mujahidin– yang beraliran Marxis.
MEK inilah yang merencanakan pembunuhan terhadap Khamenei ketika pada 1981 dirinya jadi salah satu kandidat di Pemilihan Presiden Iran. Itu terjadi pada siang 27 Juni 1981 di Masjid Abuzar, Tehran. Ketika Khamenei sedang berceramah dengan format tanya-jawab di sela ibadah shalat, tiba-tiba seorang pemuda diam-diam menyelipkan sebuah tape recorder ke meja Khamenei yang kemudian meledak.
“Khamenei selamat dari percobaan pembunuhan itu, meski pada akhirnya membuat tangan kanannya lumpuh. Kemudian rakyat Iran justru memilihnya untuk jadi presiden pada Oktober di tahun itu, setelah terjadi pembunuhan Presiden Mohammad-Ali Rajai oleh kelompok Mujahidin (MEK) pada Agustus. Suatu hari, tentunya, Khamenei akan meneruskan Imam Khomeini sebagai pemimpin tertinggi,” tulis Reza Kahlili dalam A Time to Betray: A Gripping True Spy Story of Betrayal, Fear, and Courage.













Komentar