- Martin Sitompul

- 1 hari yang lalu
- 4 menit membaca
SUMATRA UTARA menjadi daerah rawan kekerasan setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Di Kota Medan, kesatuan aksi massa antikomunis (KAP-Gestapu) bergerak secara masif memburu anggota dan simpatisan PKI. Pemuda Pancasila termasuk organisasi yang paling gencar menumpas PKI di bawah komando Angkatan Darat.
Sejak KAP-Gestapu di Medan terbentuk pada 7 Oktober 1965, Pemuda Pancasila tak pernah absen dalam operasi menghancurkan basis-basis PKI maupun yang terafiliasi dengan PKI. Mulai dari penyerbuan ke kantor Sarbupri (Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia), gedung SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), hingga pengambilalihan Gedung BAPERKI. Aksi-aksi itu kerap berujung pada penganiayaan dan pembunuhan terhadap pimpinan PKI setempat.
“Pada peristiwa penyerbuan kantor Sarpubri itu, Ketua SOBSI Sumatra Utara, Zakir Sobo mati terbunuh oleh massa. Penyerbuan kantor Sarbupri itu mendapat pengawalan dari pasukan Kodam II Bukit Barisan,” catat tim penulis Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) dalam Pulangkan Mereka: Merangkai Ingatan Penghilangan Paksa di Indonesia.
Tidak hanya menyasar PKI dan ormas-ormasnya, Konsulat Republik Rakyat Cina (kini RRT) juga digeruduk. Pada 10 Desember 1965, demonstrasi di depan Konsulat RRC berubah menjadi kerusuhan. Dalam huru-hara itu, seorang anggota IPTR (Ikatan Pemuda-Pelajar Tanah Rencong) tewas akibat tembakan peluru nyasar. Dari gedung konsulat, kerusuhan menjalar ke arah kekerasan rasial terhadap warga Tionghoa. Rumah-rumah mereka dilempari bahkan dibakar.
Ketua Aksi Pemuda Effendi Nasution dari Pemuda Pancasila dianggap bertanggung jawab sebagai pemimpin gerakan. Selain Effendi, aparat keamanan juga menangkap tokoh komando aksi lainnya seperti S. Sinambela dari SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia) dan Ahlimuddin Pulungan dari HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Aksi yang digerakan Effendi dan komplotannya terdengar sampai Istana Negara. Presiden Sukarno yang berang mengeluarkan surat perintah untuk memanggilnya ke Jakarta. Ketika menghadap Bung Karno di Istana, Effendi didampingi oleh Brigjen TNI Soekendro, sesepuh Partai IPKI yang membidani lahirnya Pemuda Pancasila.
Dalam biografinya, The Lion of Noth Sumatra: Kisah Perjuangan H.M.Y. Effendi Nasution (Pendi Keling) yang ditulis Syamsul Bahri Nasution dan Saifuddin Mahyuddin, Effendi semula girang menyambut panggilan dari Presiden Sukarno. Ia berkeyakinan akan mendapat sesuatu yang menggembirakan seperti orang ketiban bintang dari langit. Paling tidak, kedatangannya ke Istana Negara bakal menaikan pamornya sebagai orang daerah yang berperan. Namun, kenyataan yang terjadi justru bertolak belakang dengan harapan.
Ketika diterima oleh Bung Karno, suasana Istana sedang ramai. Banyak tetamu undangan sehingga Effendi harus menunggu lebih dulu. Setelah tiba waktunya, pengawal Istana mempersilakan Effendi masuk menghadap presiden. Tanpa tedeng aling-aling, Bung Karno meluapkan murkanya.
“Kamu yang bernama Effendi, kamu ini cross boys dan rasialis ya,” bentak Bung Karno.
Belum sempat Effendi menjawab, Bung Karno lanjut mencecar.
“Hei, kamu kan yang memimpin Pemuda Pancasila yang mengganyang Cina di Sumatra Utara,” kata Bung Karno seraya telunjuknya mengarah ke muka Effendi di depan khalayak ramai.
Bung Karno kian garang. Tangannya seolah-olah hendak menggampar Effendi. Diperlakukan demikian, Effendi merasa harga dirinya direndahkan. Jiwa preman dalam diri Effendi menyala-nyala. Andai kata Bung Karno menamparnya, timbul niat Effendi untuk membalas. Dengan emosi tertahan, Effendi memberanikan diri menjawab.
“Tidak mungkin saya mengganyang Cina karena etnisnya Pak. Karena dalam barisan Pemuda Pancasila di Sumatra Utara ada yang berasal dari Cina, Arab, Keling, India, dan sebagainya Pak. Bapak boleh menanyakan kepada Gubernur Sumatra Utara atau Pangdam II/BB. Saya mengganyang Cina karena mereka terlibat G30S Pak,” sanggah Effendi dengan logat Medan yang khas.
Bung Karno tampak meredakan amarahnya sejenak. Setelahnya, Effendi dan Soekendro dipersilakan duduk di kursi rotan di beranda Istana. Sejurus kemudian, Bung Karno melanjutkan pembicaraan.
“Cara kamu bertindak sudah membikin kekacauan seperti yang dilakukan gerombolan,” ujarnya
“Mungkin Pak,” sahut Effendi, “Tindakan saya seperti gerombolan tetapi sasaran kami di Sumatra Utara tetap pada orang-orang yang terlibat G30S Pak.”
“Kamu memang bandel dan terlalu banyak bicara,” hardik Bung Karno.
Soekendro menyadari amarah Bung Karno mulai naik lagi. Buru-buru tangannya menyolek Effendi sebagai isyarat agar tak usah berbantah-bantah. Setelah dua jam menghadap Bung Karno di Istana, Effendi dan Soekendro pamit undur diri. Di akhir pertemuan, Bung Karno berpesan kepada Effendi.
“Jika kamu ingin menjadi seorang pemimpin jangan suka mengelak dari kenyataan dan tanggung jawab. Jika kamu memang salah, akui kesalahanmu,” Bung Karno memberi wejangan.
“Baik Pak! Pesan Bapak akan saya ingat sebagai seorang guru kepada muridnya,” balas Effendi.
“Tidak. Kamu bukan murid saya.”
“Baik, kalau memang Bapak tidak menganggap saya sebagai murid, ya tak mengapa.”
Effendi Nasution alias Pendi Keling dikenal sebagai preman legendaris dan mantan petinju yang memimpin Pemuda Pancasila Kota Medan. Ia kondang dengan panggilan Pendi Keling lantaran kulitnya gelap seperti orang India. Syamsul dan Saifuddin menyebut, di era 1950-an hingga 1970-an, hampir tak ada seorang pun pemuda di Medan yang tak mengenal nama Pendi Keling, terutama dalam dunia preman.
Meski dirinya diakui sebagai bos preman, menurut Effendi, mencuri, merampok, dan tindak kejahatan lainnya haram bagi preman. Effendi sendiri tak keberatan disebut preman Medan asli. Dia menolak tegas stigma preman yang acap kali disebut sebagai penjahat.
“Preman Medan itu mencari uang sebagai penanggung jawab keamanan pusat-pusat keramaian, di pasar atau bioskop. Ada juga yang menjaga keamanan bandar judi, atau menjadi pengawal pengusaha kaya. Pokoknya preman Medan mencari nafkah dengan cara yang terhormat. Yang penting preman itu bukan bandit,” terang Effendi dalam Kompas, 6 Febaruari 1994.
Pada dekade 1980-an, Effendi Nasution dikenal sebagai ketua Pertina (Persatuan Tinju Nasional) Sumatra Utara. Ia wafat pada 22 Agustus 1997 di Medan, meninggalkan seorang istri, empat orang anak, dan tujuh orang cucu. Semasa hidupnya, Effendi dipandang sebagai sesepuh Pemuda Pancasila dan eksponen Angkatan ‘66 yang disegani di Kota Medan.*













Komentar