- 15 Des 2023
- 7 menit membaca
Diperbarui: 9 Jul
JALAN Cendana, 9 Juli 1976 pagi. Mengenakan surjan dan sarung kotak-kotak, Presiden Soeharto duduk santai di kursi. Sesekali dia menyilangkan satu kakinya ke kaki lainnya. Tangan kanannya memegang kipas kecil. Tatapannya fokus ke layar kaca. Tak banyak kata keluar dari mulutnya. Dia tengah serius menyaksikan siaran langsung peluncuran satelit Palapa A-1, yang jika berhasil akan menjadikan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia yang mengoperasikan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) dan yang pertama di antara negara-negara berkembang.
Pada saat yang sama, di pusat antariksa NASA di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat (AS), Willy Munandir Mangoendiprodjo, direktur utama Perusahaan Umum Telekomunikasi atau Perumtel (kini PT Telkom), memberikan sambutan. “Sistem satelit ini sangat dibutuhkan untuk mempersatukan Indonesia serta untuk memberikan pendidikan pada daerah-daerah terpencil. Satelit Palapa mampu mengcover sepertiga belahan bumi,” ujarnya, dikutip Kompas, 10 Juli 1976.
Setelah segala persiapan, waktunya tiba. Roket Delta 2914 yang membawa satelit Palapa A-1 menderu, mengeluarkan asap tebal, lalu meluncur ke angkasa. Selanjutnya, Palapa A-1 berdiam di orbitnya, 83° BT (kira-kira di atas Sri Lanka). Peluncuran sukses.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















